BREAKING Minggu, 16 Agt 2026 18:44 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Senin, 20 Jul 2026 22:00 WIB

Kehidupan Nurmaini di Huntara: Menanti Hunian Tetap Setelah Banjir

20 Jul 2026, 22:00 WIB 68x dibaca 4 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
B
Bagas Prakoso 68x dibaca · 4 menit baca
Kehidupan Nurmaini di Huntara: Menanti Hunian Tetap Setelah Banjir
regional.kompas.com

PADANG — Wajah Nurmaini (66) tampak dipenuhi garis-garis keriput yang mencerminkan banyak kisah yang belum terungkap. Pada siang hari yang panas, ia duduk di bangku plastik di depan sebuah warung kecil yang terbuat dari tripleks, yang terletak di area Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Sesekali, ia berdiri untuk merapikan makanan ringan yang dipajang di etalase sederhana. Tak lama, seorang anak datang membeli jajanan seharga Rp 2.000, dan setelahnya suasana kembali sepi. Nurmaini duduk kembali, menatap jalan tanah yang mulai berdebu akibat angin siang.

Sulit membayangkan bahwa perempuan yang kini bergantung hidup dari warung kecil tersebut pernah memiliki rumah yang dibangunnya selama hampir dua dekade, sawah yang menjadi sumber penghidupan, serta warung makan yang ramai dikunjungi pelanggan setiap pagi. "Sekarang tinggal begini," ujarnya lirih. Kalimat tersebut singkat, namun delapan bulan terakhir telah mengubah hampir seluruh hidupnya. Banjir yang melanda kawasan Pauh pada akhir 2025 tidak hanya menghancurkan rumahnya di Jalan Irigasi, tetapi juga menghilangkan sawah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber pangan keluarganya. Rumah tersebut dibangun sedikit demi sedikit selama 18 tahun, dengan sawah yang dibeli dari hasil kerja keras bersama suaminya. Setiap musim panen, mereka bisa membawa pulang sekitar 11 karung gabah. Meskipun tidak membuat mereka kaya, hasil panen tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kesulitan Setelah Banjir

Sawah yang dulunya subur kini tertimbun pasir, kayu, dan batu. Hingga kini, mereka belum dapat menggarap kembali lahan tersebut karena biaya pembersihannya jauh di luar kemampuan keluarga. "Mau sewa alat berat bagaimana? untuk makan saja susah," keluhnya. Beberapa waktu lalu, ia diminta untuk menyerahkan nomor rekening dan kartu keluarga untuk program bantuan pemulihan sawah, namun hingga saat ini belum ada kabar lebih lanjut.

Sebelum bencana, Nurmaini tidak pernah membayangkan akan berjualan makanan ringan di depan huntara. Dulu, ia mengelola warung makan sederhana yang selalu ramai dikunjungi tetangga untuk sarapan. Kini, dapur tersebut telah hilang bersama rumahnya, dan yang tersisa hanya etalase kecil berisi mi instan, minuman sachet, permen, dan jajanan anak-anak. Pendapatan dari warungnya pun tidak menentu, kadang hanya Rp 30.000 sehari. Namun, warung tersebut lebih dari sekadar sumber penghasilan; di situlah ia mengusir kesepian dan bertemu dengan tetangga, menjadikan waktu berlalu lebih bermakna setelah hidupnya berubah total.

Kehilangan yang Mendalam

Namun, kehilangan rumah bukanlah satu-satunya ujian yang harus dihadapi Nurmaini. Sekitar enam bulan setelah pindah ke huntara, suaminya meninggal dunia. Suaminya, yang bekerja mengambil pasir di sungai, pernah mengalami insiden terhanyut saat bekerja. Meskipun ia selamat, kesehatan suaminya menurun drastis setelah kejadian tersebut. Pada 21 Mei 2026, suaminya menghembuskan napas terakhir di dalam bilik huntara yang mereka tempati. "Dulu kami tinggal berdua di sini," kata Nurmaini, suaranya terputus. Kini, bilik yang sama hanya dihuni dirinya seorang. Anak-anaknya masih tinggal di kawasan huntara, tetapi mereka sudah memiliki keluarga dan kartu keluarga masing-masing.

Setelah kepergian suaminya, malam-malam terasa lebih panjang. Delapan bulan di huntara membuat Nurmaini menyadari bahwa tempat itu hanyalah persinggahan. Ruangan kecil berdinding tripleks terasa semakin pengap ketika siang tiba, dengan suara televisi, tangisan anak kecil, dan percakapan dari bilik sebelah yang saling bercampur. Di halaman depan, beberapa penghuni mulai membuka warung kecil. Bantuan yang sebelumnya rutin datang kini semakin jarang, dan hampir semua orang berusaha bertahan dengan cara masing-masing. Nurmaini memilih untuk tetap membuka warung setiap hari, bukan karena banyak pembeli, tetapi karena ia tidak ingin hanya duduk menunggu waktu berlalu.

Saat ini, satu-satunya harapan yang terus dibicarakan penghuni Huntara Kapalo Koto adalah hunian tetap. Nurmaini mendengar bahwa kawasan Sungkai disiapkan sebagai lokasi relokasi bagi mereka. Ia berharap bisa mendapatkan rumah yang tidak terlalu jauh dari Kecamatan Pauh. Namun, jika harus pindah ke Sungkai, ia mengaku akan menerimanya. "Mau bagaimana lagi. Saya sudah tidak punya rumah," ujarnya. Bagi Nurmaini, hunian tetap bukan hanya sekadar bangunan pengganti rumah yang hilang, tetapi juga tempat untuk mengakhiri hidup sebagai pengungsi dan memulai kembali kehidupan yang sempat terputus oleh banjir, serta menghadapi ujian baru setelah kehilangan orang yang paling dicintainya.