Olahraga

Kehilangan Pangsa Pasar, Nvidia Hadapi Tantangan Besar di China

CEO Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan bahwa perusahaan mengalami penurunan pangsa pasar yang drastis di China, kini menyentuh angka nol. Hal ini terjadi meskipun sebelumnya Nvidia mendominasi pasar...

A
Admin Fakta Lurus
08 May 2026 8 pembaca
Kehilangan Pangsa Pasar, Nvidia Hadapi Tantangan Besar di China
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Kepala eksekutif Nvidia, Jensen Huang, baru-baru ini mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kondisi bisnis perusahaannya di China. Dalam sebuah wawancara pada akhir April lalu, Huang menyatakan bahwa pangsa pasar Nvidia di negara tersebut telah anjlok hingga mencapai nol persen. Sebelumnya, Nvidia dikenal sebagai pemimpin pasar di sektor chip semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) di China.

"Nvidia sebelumnya memiliki, sebut saja, sekitar 90-an persen pangsa pasar di sana," jelas Huang. "Namun hari ini, di China, pangsa pasar kami kini telah turun menjadi nol."

Ironi Penurunan Dominasi

Anjloknya pangsa pasar Nvidia di China menjadi sebuah ironi, mengingat perusahaan tersebut sebelumnya sangat dominan di pasar. Aturan kontrol ekspor yang ketat dari pemerintah Amerika Serikat (AS) yang awalnya bertujuan untuk melindungi keunggulan teknologi mereka, ternyata berdampak negatif bagi Nvidia. Kebijakan ini justru menjadi bumerang yang menyebabkan hilangnya pangsa pasar di China, di mana produsen chip lokal dengan cepat mengambil alih posisi yang ditinggalkan Nvidia.

Huang juga menyoroti bahwa ketidakmampuan Nvidia untuk menjual chip andalannya telah menciptakan peluang bagi para pesaing lokal untuk merebut pasar. Meskipun kehilangan pangsa pasar yang signifikan, Huang tetap sejalan dengan kebijakan pemerintah AS, menyatakan bahwa China tidak seharusnya memiliki akses terhadap chip AI paling mutakhir.

Komitmen Terhadap Kebijakan AS

Dalam kesempatan tersebut, Huang secara spesifik menyebutkan arsitektur GPU AI terbaru, yaitu Blackwell dan Rubin, dan menegaskan bahwa akses ke chip tersebut tidak boleh diberikan kepada China. Ia berpendapat bahwa dalam perlombaan kecerdasan buatan global, AS harus tetap memegang kendali penuh, dengan memiliki "yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik" dalam hal perangkat keras AI.

Meski mendukung ambisi teknologi AS, Huang juga meminta agar perusahaan-perusahaan semikonduktor dari AS diberikan kesempatan untuk tetap bersaing di pasar global, termasuk di China, selama tidak melanggar aturan ekspor. Saat ini, situasi pangsa pasar Nvidia yang anjlok hingga nol persen sangat kontras dengan kondisi beberapa bulan yang lalu, ketika Huang mengklaim bahwa perusahaan telah menerima banyak pesanan chip dari pelanggan di China setelah mendapatkan izin ekspor untuk chip AI seri H200.

H200 merupakan chip AI yang telah dimodifikasi agar sesuai dengan regulasi AS. Namun, dinamika geopolitik yang terus berubah dan sanksi ekspor yang ketat telah mengubah peta persaingan dengan cepat, memberikan tantangan besar bagi Nvidia di pasar China.

Artikel Terkait