MEMPAWAH, KOMPAS.com – Sejak Kamis (11/6/2026), jutaan ikan budi daya dalam keramba yang dimiliki oleh masyarakat di Sungai Mempawah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mengalami kematian mendadak. Kejadian ini menyebabkan kerugian signifikan bagi para pembudidaya yang bergantung pada usaha perikanan air tawar.
Dampak Terbesar pada Ikan Mas
Bupati Mempawah, Erlina, menyatakan bahwa ikan mas merupakan komoditas yang paling banyak terdampak karena jenis ikan ini lebih rentan terhadap perubahan kualitas air. “Sementara itu, ikan nila dan lele masih memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap perubahan kondisi lingkungan perairan,” ungkapnya pada Jumat (12/6/2026).
Meski begitu, Erlina meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi mengenai penyebab pasti dari kejadian tersebut.
Pemantauan dan Pendataan oleh DPKPP
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Mempawah telah melakukan pemantauan langsung di lapangan dan melakukan pendataan bersama pemilik keramba. “Tim DPKPP Mempawah sudah turun ke lapangan dan terus berkoordinasi dengan para pembudidaya. Dugaan sementara, kejadian ini dipicu oleh meningkatnya tingkat keasaman air sungai akibat faktor alam,” jelas Erlina.
Pemerintah Kabupaten Mempawah juga sedang berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk memberikan bantuan bibit ikan kepada masyarakat yang terdampak. Langkah ini diharapkan dapat membantu para pembudidaya untuk memulai kembali usaha mereka setelah mengalami kerugian akibat kematian massal ikan.
Langkah Strategis untuk Mencegah Kejadian Serupa
Selain upaya pemulihan, Pemkab Mempawah juga merencanakan langkah-langkah strategis jangka panjang untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. Salah satu langkah awal adalah membangun sistem peringatan dini serta memperkuat pembinaan kepada pembudidaya ikan melalui pemantauan kualitas dan tingkat keasaman air sungai secara berkala. Dengan sistem ini, diharapkan para peternak dapat lebih cepat mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan dan memilih jenis komoditas yang sesuai.
Pemerintah juga akan melakukan penataan zonasi keramba dengan mengatur kembali lokasi dan kapasitas keramba di sepanjang aliran Sungai Mempawah. “Penataan ini bertujuan menjaga sirkulasi air agar tetap sehat dan mendukung keberlanjutan budidaya perikanan,” tambah Erlina.
Pemkab Mempawah juga akan mendorong program pemulihan daerah aliran sungai (DAS) melalui pelestarian ekosistem dari hulu hingga hilir. Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah daerah akan membuka komunikasi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah lain, termasuk Kabupaten Landak, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, akademisi, serta komunitas masyarakat.
Erlina menekankan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat penting akan ketergantungan masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. “Karena itu, mari bersama-sama menjaga ekosistem Sungai Mempawah dengan tidak membuang sampah maupun limbah ke sungai. Sungai yang sehat adalah urat nadi kehidupan dan perekonomian kita bersama,” tuturnya.
Sampai saat ini, pemerintah masih melakukan pemantauan kondisi perairan Sungai Mempawah dan mendata jumlah kerugian yang dialami oleh para pembudidaya akibat kematian massal ikan tersebut.