Hantavirus telah menjadi perhatian dalam peta penyakit menular di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa sebanyak 23 kasus konfirmasi hantavirus telah terdeteksi di tanah air dari awal tahun 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Kasus-kasus ini tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta mencatat jumlah tertinggi, masing-masing enam kasus. Jawa Barat mengikuti dengan lima kasus, sementara Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten masing-masing melaporkan satu kasus.
Data Suspek dan Penjelasan Ahli
Secara keseluruhan, terdapat 251 kasus suspek yang sedang dipantau. Dari jumlah tersebut, 23 kasus telah dinyatakan positif, 221 negatif, empat masih dalam proses pemeriksaan, dan tiga lainnya tidak dapat diambil spesimennya. Pakar infeksi tropik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dominicus Husada, menjelaskan bahwa hantavirus yang ada di Indonesia berbeda dengan virus Andes. Ia menegaskan bahwa virus Andes tidak ditemukan di Indonesia dan belum pernah terdeteksi di wilayah ini.
Dominicus juga menjelaskan bahwa penularan hantavirus di Indonesia berasal dari hewan pengerat, seperti tikus yang terinfeksi, dan bukan dari manusia ke manusia. Hantavirus sudah dikenal dalam dunia medis dan bukan merupakan virus baru.
Risiko Penularan dan Langkah Pencegahan
Penularan hantavirus umumnya terjadi melalui partikel virus yang terdapat dalam urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup oleh manusia, terutama di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. "Penularan biasanya melalui partikel virus yang ada di air kencing, kotoran, atau liur tikus," jelas Dominicus.
Indonesia telah memantau hantavirus sejak lama, dengan catatan 39 kasus antara tahun 2013 hingga 2016 melalui kerja sama penelitian dengan Amerika Serikat. Meskipun masyarakat diminta untuk tetap waspada, Dominicus menilai risiko penyebaran hantavirus secara luas di Indonesia masih tergolong rendah. Ia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan seperti saat pandemi Covid-19, karena virus Andes yang ditemukan di Amerika Selatan memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat menular antar manusia.
Langkah pencegahan utama adalah memutus rantai kontak dengan tikus atau celurut, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang hewan pengerat. Saat ini, pemerintah terus melakukan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), mengawasi pelaku perjalanan dari negara terjangkit, serta menggalakkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat.