BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Kamis, 06 Agt 2026 05:45 WIB

Kementerian Keuangan Ambil Alih 60 Persen Saham Whoosh, Ditargetkan Selesai pada September 2026

06 Agt 2026, 05:45 WIB 71x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
S
Sabrina Aulia Rahma 71x dibaca · 2 menit baca
Purbaya: Kemenkeu ambil alih kepemilikan 60 persen saham di Whoosh.
Purbaya: Kemenkeu ambil alih kepemilikan 60 persen saham di Whoosh.

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mengambil alih kepemilikan 60 persen saham Whoosh di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Proses pengambilalihan ini ditargetkan akan selesai pada pertengahan September 2026.

Saham mayoritas yang akan diambil alih ini sebelumnya dikuasai oleh konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sementara 40 persen sisanya akan tetap dipegang oleh konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Pengelolaan Melalui SMV Fiskal

Purbaya menjelaskan bahwa Whoosh nantinya akan dikelola melalui unit Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kemenkeu. Dengan skema ini, pengelolaan kereta cepat tidak akan menjadi beban langsung bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Dialihkan Kemenkeu, dikelola oleh saya semuanya KCIC itu. Tapi nanti akan kita pakai salah satu tangan BUMN, SMV Fiskal kita untuk mengelola itu. Kita kan punya banyak juga, ada SMV, ada ini, ada lain-lain. Jadi enggak langsung jadi tanggung jawab APBN,” jelas Purbaya.

Ia menegaskan bahwa kepemilikan 60 persen saham Whoosh tersebut tidak akan lagi berada di bawah PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau konsorsium PSBI. Konsorsium PSBI terdiri dari KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII). “Di saya, bukan (di bawah KAI),” tegas Purbaya.

Sumber Pembiayaan dan Peluang Perluasan Rute

Dengan skema baru ini, Purbaya menjelaskan bahwa pembiayaan operasional maupun kewajiban KCIC ke depan akan ditutup dari dividen serta keuntungan usaha dari SMV di bawah Kemenkeu. “Nggak, SMV kan punya untung juga kan, sebagian dari situ. Kira-kira begitu gambaran kasarnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga mengungkapkan bahwa pihak China tetap berminat melanjutkan kerja sama. Bahkan, Kemenkeu membuka peluang untuk perluasan rute proyek kereta cepat hingga ke Jawa Timur. “Kan punya dia dikasih semuanya, 60 persen kasih ke kita (Kemenkeu), 40 persen ada yang lain, masih ada Tiongkok di situ kan,” kata Purbaya.

Terkait entitas SMV yang akan ditunjuk sebagai pengelola saham KCIC, Purbaya menyebutkan bahwa jumlahnya kemungkinan lebih dari satu lembaga. Meski demikian, keputusan final mengenai hal ini masih dalam tahap finalisasi. “Itu masih didiskusikan, harusnya lebih dari satu,” pungkasnya.