SAMARINDA - Kontroversi seputar anggaran laundry rumah jabatan Gubernur Kalimantan Timur yang bernilai Rp 450 juta kini memasuki fase baru. Publik mulai memperhatikan adanya ketidaksesuaian antara total tagihan yang tertera dalam nota pembayaran dan rincian item yang disampaikan kepada media.
Pada sesi rilis resmi yang diadakan oleh Biro Umum Setda Kaltim bersama Diskominfo Kaltim, terungkap bahwa nota pembayaran untuk layanan laundry mencapai Rp 20.984.550 hanya untuk periode pengerjaan selama lima hari, yaitu dari 25 hingga 31 Maret 2026. Namun, ketika rincian item dijumlahkan secara manual, ditemukan selisih yang cukup besar. Dari data yang ditampilkan, total biaya dari rincian item hanya sekitar Rp 7.730.000, sehingga menyisakan selisih sekitar Rp 13,2 juta yang belum dijelaskan dalam nota pembayaran yang totalnya Rp 20,9 juta tersebut.
Rincian Item Laundry yang Dipublikasikan
Berdasarkan paparan resmi yang disampaikan, berikut adalah rincian cucian yang terlihat: pada 25 Maret 2026 (Ekspres 6 Jam) mencakup pakaian (6 kg), 7 potong gamis, 4 potong sarung, 5 potong handuk, 3 potong daster, sajadah, mukena, serta 25 potong pakaian dalam dengan subtotal biaya tertentu. Dari 25 hingga 28 Maret 2026, terdapat perlengkapan operasional seperti 26 potong taplak meja, 10 potong handuk, 15 potong keset, dan 4 set bed cover. Pada 27 Maret 2026 (Ekspres 6 Jam), terdapat cucian berupa pakaian (10 kg), 3 potong kemeja, dan 4 potong gamis. Pada 29 Maret 2026 (Ekspres 3 Jam), terdaftar 6 potong kemeja, 15 potong handuk, 5 potong keset, 6 potong bed cover besar, dan 5 potong selimut. Sedangkan pada 30 Maret 2026 (Ekspres 3 Jam), terdapat 4 potong sarung, 5 potong handuk, dan 1 potong celana panjang.
Perbedaan angka yang mencolok ini menimbulkan pertanyaan mengenai rincian pengerjaan pada tanggal 30 hingga 31 Maret 2026 yang tidak dipaparkan secara rinci dalam rilis tersebut. Hingga saat ini, pihak Biro Umum Setda Kaltim belum memberikan tanggapan tambahan terkait selisih nilai tersebut.
Penyebab Biaya yang Tinggi
Pemilik Alwan Laundry, Enny, yang menangani cucian tersebut, menjelaskan bahwa tingginya biaya disebabkan oleh permintaan layanan ekspres. Pihaknya sering kali harus menyelesaikan pesanan dalam waktu 3 hingga 6 jam, bahkan pada jam-jam tidak biasa. “Ekspres itu macam-macam. Kalau sudah lewat malam, seperti jam 10 malam, jam 1 dini hari, bahkan pernah sampai jam 3 subuh, tentu berbeda lagi pengerjaannya,” ungkap Enny.
Enny juga menegaskan bahwa sebagian besar cucian yang ditangani bukan berasal dari pakaian pribadi kepala daerah, melainkan perlengkapan operasional kegiatan seperti taplak meja dan sarung kursi dalam jumlah besar. Senada dengan Enny, Plt Kepala Biro Umum Setda Kaltim, Astri Intan Nirwany, menegaskan bahwa anggaran sebesar Rp 450 juta per tahun tersebut digunakan untuk perawatan seluruh fasilitas rumah jabatan.
Meskipun demikian, publik masih menunggu transparansi penuh mengenai detail sisa anggaran pada nota Maret tersebut untuk memastikan akuntabilitas penggunaan dana daerah.