Olahraga

Kewaspadaan Terhadap Penggunaan AI yang Berlebihan: Dampak Stres Mental

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang berlebihan dapat menyebabkan stres mental, terutama di kalangan pekerja. Riset terbaru mengungkapkan fenomena "brain fry" yang mengindikasikan kelelahan mental a...

A
Admin Fakta Lurus
03 May 2026 6 pembaca
Kewaspadaan Terhadap Penggunaan AI yang Berlebihan: Dampak Stres Mental
Sumber gambar: tekno.kompas.com

KOMPAS.com - Pengguna yang sering memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) diharapkan untuk lebih berhati-hati. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat stres, terutama di lingkungan kerja. Penelitian yang dipublikasikan dalam Harvard Business Review (HBR) ini memperkenalkan istilah "AI brain fry", yang merujuk pada kondisi kelelahan mental akibat penggunaan AI yang melebihi kapasitas kognitif manusia.

Stres Akibat Penggunaan AI yang Intensif

Dalam riset berjudul When Using AI Leads to “Brain Fry”, para peneliti melakukan survei terhadap sekitar 1.500 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah pekerja yang menggunakan AI secara intens mengalami kelelahan mental, kesulitan dalam berkonsentrasi, serta pengambilan keputusan yang lebih lambat.

Dari hampir 1.500 pekerja yang disurvei, sekitar 14 persen responden mengaku pernah mengalami kondisi yang disebut “brain fry”. Persentase tertinggi ditemukan di sektor pemasaran, pengembangan perangkat lunak, sumber daya manusia, keuangan, dan teknologi informasi. Julie Bedard, Managing Director dan Partner di Boston Consulting Group, menyatakan bahwa temuan ini menjadi peringatan bagi perusahaan yang terlalu optimis terhadap peningkatan produktivitas yang ditawarkan oleh AI.

Paradoks Produktivitas AI

Menariknya, studi ini juga menemukan paradoks bagi para pegawai. Di satu sisi, penggunaan AI untuk mengambil alih tugas rutin dapat mengurangi stres, tetapi di sisi lain, ketika pekerja harus mengelola beberapa alat AI secara bersamaan, tekanan mental justru meningkat. Hal ini disebabkan oleh informasi yang berlebihan dan kebutuhan untuk terus memeriksa hasil kerja AI.

Banyak pekerja menggambarkan pengalaman brain fry sebagai perasaan "kabut mental" atau kepala yang terasa penuh, mirip dengan banyak tab browser yang terbuka. Beberapa pekerja bahkan merasa lebih sibuk mengelola alat AI daripada menyelesaikan pekerjaan utama mereka. Jack Downey, Head of Strategy di Webster Pass Consulting, menjelaskan bahwa penggunaan AI sehari-hari seringkali menambah tekanan mental karena pekerja harus menunggu hasil dan berpindah tugas secara cepat.

Peneliti juga menemukan bahwa pekerja yang mengalami brain fry cenderung lebih sering melakukan kesalahan dan mengalami kelelahan dalam pengambilan keputusan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini berhubungan dengan meningkatnya niat karyawan untuk resign. Studi mencatat bahwa niat untuk keluar dari pekerjaan meningkat hampir 10 persen pada pekerja yang melaporkan mengalami brain fry.

Walaupun demikian, peneliti menekankan bahwa solusi untuk masalah ini bukanlah menghentikan penggunaan AI. Sebaliknya, perusahaan perlu mendesain ulang cara kerja dengan AI, bukan sekadar menambahkan AI ke dalam sistem kerja yang sudah ada. Potensi AI mungkin tidak terbatas, tetapi tantangannya adalah seberapa jauh otak manusia dapat beradaptasi untuk mengimbanginya. Pelatihan yang tepat dalam penggunaan AI dan strategi manajemen yang jelas dapat membantu mengurangi risiko brain fry.

Artikel Terkait