BREAKING Minggu, 16 Agt 2026 13:27 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Minggu, 02 Agt 2026 17:20 WIB

Kiram, 35 Tahun Berjuang Sebagai Tukang Servis Tanpa Kios di Bengkulu

02 Agt 2026, 17:20 WIB 54x dibaca 2 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
K
Komang Yoga 54x dibaca · 2 menit baca
Kiram, 35 Tahun Berjuang Sebagai Tukang Servis Tanpa Kios di Bengkulu
regional.kompas.com

BENGKULU - Di area Pasar Panorama, Kota Bengkulu, Kiram (70) terus berusaha mencari nafkah dengan keterampilan dan peralatan sederhana. Selama lebih dari tiga dekade, ia telah berprofesi sebagai tukang servis untuk arloji, kacamata, dan korek api Zippo, meskipun kini layanan yang ditawarkannya semakin tergerus oleh perkembangan teknologi. Pada siang hari itu, Kiram baru saja menyelesaikan perbaikan rantai arloji milik seorang remaja dan menerima imbalan sebesar Rp 10.000.

Belum sempat beristirahat, seorang pelanggan lain datang dengan korek api Zippo yang mengalami kerusakan. Dalam hitungan menit, korek tersebut kembali berfungsi. "Kalau Zippo tadi untuk biaya servis saya tidak matok harga, sukarela saja. Tapi dia beli bahan bakar untuk isi ulang Zippo maka saya patok Rp 50 ribu. Modal belinya Rp 45 ribu, saya hanya ambil untung Rp 5 ribu saja," jelas Kiram.

Tanpa Kios Tetap, Beradaptasi dengan Lingkungan

Kiram tidak memiliki kios tetap di pasar, semua peralatan kerjanya disimpan dalam sebuah kotak aluminium berukuran sekitar satu meter. Ia meletakkan kotak tersebut di tempat kosong yang tersedia. Jika tidak ada ruang, ia akan berpindah mencari lokasi lain. "Saya tidak punya lapak, jadi saya numpang saja. Kalau ada lapak kosong saya letakkan peralatan kerja. Kalau penuh, saya cari tempat kosong lagi," tuturnya.

Pengalaman Kiram dalam memperbaiki jam tangan dimulai saat ia mengikuti kursus di Kota Padang, Sumatera Barat, di masa mudanya. Hingga kini, ia masih mampu memperbaiki berbagai jenis jam, baik analog maupun digital. "Jam dinding, jam tangan digital, analog, mudah-mudahan saya bisa perbaiki," ungkapnya.

Menjaga Semangat di Tengah Persaingan

Perkembangan teknologi telah membuat pekerjaan Kiram semakin sulit. Saat ini, banyak penyedia jasa servis yang menggunakan alat modern, sementara ia tetap bergantung pada keterampilan manual. "Servis kacamata sekarang ada alat canggih, arloji juga, bahkan Zippo juga begitu. Jadi jasa saya banyak saingannya, imbasnya pendapatan tidak menentu," kata Kiram.

Dalam sehari, penghasilan Kiram bisa mencapai sekitar Rp 100.000, namun tidak jarang ia pulang tanpa uang karena tidak ada pelanggan yang datang. "Kadang dapat uang, kadang sama sekali tidak dapat berhari-hari," tuturnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Kiram tetap bersyukur. Bersama istrinya yang berjualan pakaian dalam skala kecil di pasar, ia merasa masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak-anaknya. "Harus bersyukur dari usaha ini masih bisa buat makan dan biaya sekolah anak. Selebihnya biar Tuhan yang urus," pungkas Kiram.