SURABAYA, KOMPAS.com - Di pagi yang mendung di Surabaya, Enik Suhartini sudah memulai rutinitasnya. Sebelum pukul lima, ia bangun dan berangkat ke rumah majikannya untuk menyiapkan bekal dan memandikan dua anak majikannya sebelum mereka berangkat sekolah. Perempuan asal Jember ini telah bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) selama tujuh tahun di sebuah kawasan perumahan di Surabaya Timur. Tugas sehari-harinya meliputi memasak, mencuci, menyetrika, dan mengasuh anak-anak majikannya dari pagi hingga petang.
“Jam setengah tujuh saya sudah berangkat. Habis masak, lanjut cuci-cuci. Jam 10 setrika, nanti sore masak lagi,” ungkap Enik saat ditemui pada Jumat (1/5/2026). Hari kerjanya cukup panjang, ia baru pulang sekitar pukul 18.30 WIB, bahkan bisa lebih malam jika diminta lembur. Keesokan harinya, Enik kembali datang pukul enam pagi, menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari rumahnya di kawasan Ngagel.
Perjalanan Hidup yang Penuh Tantangan
Di balik rutinitas yang padat, terdapat kisah panjang yang membuat Enik bertahan hingga hari ini. Setelah suaminya meninggal dunia pada tahun 2015, ia sempat bekerja di beberapa toko di Surabaya dan Sidoarjo. “Alasannya ya karena kadang engga kerasan kerja di sana, merasa kurang cocok,” ujarnya. Berbekal informasi dari tetangga, Enik mulai bekerja sebagai ART pada tahun 2018. “Awalnya ya saya coba dulu pekerjaan itu, kan posisinya suami saya meninggal dan anak-anak masih harus lanjut sekolah, jadi saya harus kerja untuk membesarkan mereka, tapi ternyata saya merasa nyaman dengan menjadi ART di sini,” tambahnya.
Ketika itu, dua anak laki-lakinya masih bersekolah. Kini, anak pertamanya telah menikah, sedangkan anak keduanya masih menempuh pendidikan di pondok pesantren di Jember. Keberhasilan menyekolahkan anak-anak menjadi salah satu pencapaian yang paling disyukuri Enik. Kedua anaknya sempat disekolahkan di pondok pesantren, dan anak bungsunya kini tengah menjalani program tahfiz Al Quran di Jember. “Alhamdulillah, anak bungsu saya yang juga menghafal Al Quran kemarin juga masuk tiga besar di sekolahan, saya merasa senang. Tapi yang penting bagi saya anak bisa sekolah, bisa punya bekal buat masa depan mereka,” tuturnya.
Harapan dan Tantangan Seorang Ibu
Enik tidak pernah memaksakan pilihan anaknya, termasuk saat anaknya memutuskan untuk fokus di pondok pesantren. Baginya, selama anak berada di jalan yang baik, itu sudah cukup menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, ia juga menceritakan bahwa keputusan untuk merantau dan bekerja bukanlah hal yang mudah. Ia harus meninggalkan anak-anaknya di kampung halaman dan hanya bisa pulang sekitar tiga bulan sekali. “Kalau rindu ya pasti ada, sama anak, sama orang tua. Tapi ya bagaimana lagi,” ucapnya pelan.
Meski demikian, Enik bersyukur dengan pekerjaannya saat ini. Selama tujuh tahun, ia merasa diperlakukan baik oleh majikannya. “Alhamdulillah, selama tujuh tahun bekerja saya dianggap seperti keluarga sendiri. Enggak pernah dibeda-bedakan, malah kadang juga dikasih uang jajan sama majikan,” katanya. Gajinya pun meningkat sejak pertama kali bekerja pada tahun 2018, dari Rp 1,5 juta kini ia menerima lebih dari Rp 3 juta per bulan. Enik menyatakan bahwa penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sesekali ia bisa menabung.
Bagi Enik, bertahan sebagai ART bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga tanggung jawab. Ia menyadari bahwa pekerjaannya adalah jalan untuk menyokong keluarga kecilnya di Jember. “Yang penting halal dan bisa menyekolahkan anak-anak saya, itu sudah sangat saya syukuri,” tuturnya.
Di tengah momentum Hari Buruh yang seringkali identik dengan pekerja formal, sosok seperti Enik sering kali terabaikan. Pekerjaan rumah tangga menyimpan beban kerja panjang dan tanggung jawab besar. Baru-baru ini, pembahasan mengenai Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) yang baru disahkan menjadi perhatian publik. Regulasi ini diharapkan memberikan kepastian hak, perlindungan kerja, serta pengakuan yang lebih layak bagi para PRT.
Enik menyatakan dukungannya terhadap rencana aturan baru tersebut. “Ya sangat setuju sekarang, jadi orang bisa lebih menghargai pekerja rumah tangga dan kami merasa lebih diperhatikan,” ujarnya dengan semangat. Ia menganggap perlindungan bagi pekerja rumah tangga sangat penting, meskipun ia merasa beruntung memiliki majikan yang baik. Namun, ia menyadari tidak semua ART mengalami hal yang sama.
Ia juga menekankan pentingnya sikap dari pekerja itu sendiri. “Pesan saya ya, kalau kerja ikut orang, kita harus sabar. Kalau ada salah ya ditegur, harus diterima,” katanya. Saat ditanya tentang keinginannya di masa depan, Enik mengaku tidak ingin selamanya bekerja pada orang lain. “Aku sebenarnya ingin berhenti, tapi masih ada tanggung jawab untuk membiayai anak yang masih sekolah, antara tega enggak tega. Kalau ada tabungan, pengen buka usaha kecil di rumah,” ungkapnya.
Di akhir percakapan, Enik menyampaikan harapannya yang sederhana, yaitu ingin pulang, tinggal di kampung, dan menjalani hidup lebih tenang tanpa harus meninggalkan keluarga terlalu lama. “Ya namanya orangtua, selalu ingin memberikan hal yang terbaik buat anak, jadi saya harus bekerja meskipun kadang merasa kangen dan ingin berkumpul dengan keluarga yang ada di rumah,” pungkasnya.