BREAKING Senin, 17 Agt 2026 20:35 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Senin, 17 Agt 2026 18:51 WIB

Kisah Yun Oktavia, Pasien Operasi Sesar yang Selamat dari Gempa M7,7 di RSUD Ruteng

17 Agt 2026, 18:51 WIB 5x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
Z
Zahra Asma Nabila 5x dibaca · 3 menit baca
Pasien RSUD Ruteng dirawat di tenda darurat. Ada yang ketakutan, ada yang menikmati masa perawatan.(KOMPAS.com/APOLONIA INERU BAHALI)
Pasien RSUD Ruteng dirawat di tenda darurat. Ada yang ketakutan, ada yang menikmati masa perawatan.(KOMPAS.com/APOLONIA INERU BAHALI)

RUTENG - Yun Oktavia (37) terlihat berjalan perlahan di area rumah sakit pada Senin pagi (17/8/2026), dengan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa sakit. Ia melintasi tenda-tenda darurat yang didirikan untuk menangani pasien, sambil memegang perutnya yang dibalut kain. Dua hari setelah gempa berkekuatan 7,7, warga Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong ini mulai belajar berjalan pasca menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng. Ia mengungkapkan bahwa perasaannya tidak pernah tenang sejak merasakan gempa pada Sabtu pagi itu.

"Perasaannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kaget, trauma. Selama ini bencana hanya lihat di TV. Tapi saat itu, yang saya alami waktu itu benar-benar luar biasa sangat mengerikan," ucapnya saat beristirahat di salah satu tembok taman.

Operasi Darurat di Tengah Ketegangan

Yun terpaksa menjalani operasi caesar dalam situasi darurat akibat tekanan darah tinggi. Usia kehamilannya belum genap sembilan bulan, sehingga bayinya harus dilahirkan secara prematur pada Sabtu pagi. "Saat kejadian, selang satu jam saya baru selesai habis operasi. Badan saya masih pengaruh bius dan tidak bisa bergerak. Saya berada di lantai tiga," tambahnya.

Dalam keadaan tersebut, Yun merasakan kepanikan ketika gempa mengguncang, membuat tempat tidurnya bergetar. Ia semakin merasa cemas saat melihat kaca jendela hampir pecah dan dinding mulai retak. "Saya hanya bersama suami. Belum berpakaian lengkap karena habis operasi. Bayi kami di inkubator karena prematur. Saya trauma. Tak bisa digambarkan rasanya," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Beruntung, ia berhasil dibawa keluar dari lantai tiga. Suaminya dan beberapa petugas mendorong tempat tidurnya menuju halaman depan rumah sakit. Sejak saat itu, Yun dirawat di tenda darurat bersama pasien lainnya.

Kekhawatiran Pasca Gempa

Namun, gempa susulan yang terus-menerus terjadi membuatnya semakin gelisah. Yun merasa khawatir karena tekanan darahnya terus meningkat. "Tekanan darah sampai seratus lima puluh. Naik karena trauma itu. Pas guncangan lagi naik lagi," jelasnya.

Sementara itu, Edeltrudis Krima (59) memiliki pengalaman berbeda. Ia mengaku menikmati masa perawatan di tenda darurat RSUD Ruteng. Lansia dari Kecamatan Bari, Kabupaten Manggarai Barat ini dirawat karena asma yang kambuh akibat gempa. "Saya kambuh asma mungkin karena gempa ini. Tapi saya senang di sini, ketemu banyak orang, ketemu keluarga juga," ujarnya.

Edeltrudis dirawat sejak Minggu pagi (16/8/2026). Saat gempa M7,7 terjadi, ia berada di rumah salah satu anaknya di Ruteng. Ibu dari empat anak ini langsung mendapatkan perawatan di tenda darurat setelah tiba di RSUD Ruteng. Ia menerima bantuan oksigen dan ditempatkan di tenda melati bersama pasien lainnya. "Saya tidak merasa takut karena batin saya sudah menerima tantangan hidup dengan cara berdoa," ungkapnya.

Saat ini, masyarakat di Nusa Tenggara Timur tengah berduka akibat gempa M7,7. Mari kita bersama-sama memberikan dukungan untuk meringankan beban yang mereka alami.