Jakarta, CNN Indonesia -- Kontak kulit antara ibu dan bayi telah terbukti memberikan berbagai manfaat. Untuk bayi, interaksi ini dapat membantu mengatur suhu tubuh dan mengurangi tingkat stres. Sementara itu, bagi ibu, kontak ini juga dapat mendukung kelancaran proses menyusui. Namun, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatric Research mengungkapkan manfaat tambahan dari kontak kulit, yaitu kemampuannya dalam menurunkan risiko depresi pada ibu, yang dapat mencegah terjadinya depresi pasca melahirkan (PPD).
Temuan Penelitian Terkini
Menurut Brandi Fields, salah satu penulis penelitian dari Pediatrix Medical Group, "Studi ini menambah semakin banyak bukti bahwa kontak kulit ke kulit diketahui bermanfaat untuk menyusui, pengaturan suhu, ikatan batin, serta mungkin juga berkontribusi pada penurunan risiko PPD." Penelitian ini mencatat bahwa ibu yang melahirkan bayi prematur mendapatkan manfaat yang lebih signifikan, karena orang tua dengan bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami PPD. Ketika ibu melakukan kontak kulit dengan bayi, serangkaian reaksi ilmiah terjadi, banyak di antaranya terkait dengan pelepasan hormon oksitosin.
Dampak Emosional dari Kontak Kulit
Fields menjelaskan, "Oksitosin meningkatkan perasaan tenang, rileks, dan terhubung dengan bayi. Mengurangi pelepasan kortisol, hormon stres pada ibu dan bayi." Rasa takut dan cemas yang dialami ibu akan tergantikan oleh rasa percaya diri dan ketenangan. Secara mental dan emosional, kontak kulit dapat memberikan dampak positif pada kondisi seseorang. Dalam konteks ibu yang baru melahirkan, interaksi ini menciptakan momen berharga bagi ibu dan bayi.
Psikolog Kait Towner menambahkan, "Bagi banyak ibu baru, terutama mereka yang mengalami PPD, momen-momen ini dapat membantu menggeser pikiran negatif." Momen kebersamaan yang sering terjadi dapat membangun kepercayaan diri orang tua baru dan memperkuat hubungan mereka dengan bayi, yang semuanya berkontribusi untuk menurunkan risiko PPD.
Praktik Kontak Kulit yang Efektif
Praktik kontak kulit ke kulit umumnya dilakukan saat menyusui, tetapi juga bisa dilakukan ketika tidak menyusui. Ibu dapat melakukannya saat memberikan susu formula dalam botol kepada bayi dengan cara menyandarkan tubuh bayi pada dada ibu yang telanjang, sambil menutupi keduanya dengan selimut. Orang tua disarankan untuk berada dalam posisi terjaga, duduk tegak, dan memantau wajah serta pernapasan bayi.
Selain saat menyusui atau memberikan susu formula, kontak kulit juga dapat dilakukan ketika bayi tertidur atau membutuhkan ketenangan. Para psikolog menyarankan agar orang tua menjadikan praktik ini sebagai bagian dari rutinitas harian. Melakukan kontak kulit di pagi hari bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk memulai hari bagi orang tua dan anak.