BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Jumat, 24 Jul 2026 10:18 WIB

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terhadap Penyakit Autoimun?

24 Jul 2026, 10:18 WIB 80x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
S
Sabrina Aulia Rahma 80x dibaca · 3 menit baca
Ilustrasi. Perempuan lebih rentan alami autoimun. Selain faktor genetik, ternyata faktor stress juga berperan besar. (iStock/bymuratdeniz)
Ilustrasi. Perempuan lebih rentan alami autoimun. Selain faktor genetik, ternyata faktor stress juga berperan besar. (iStock/bymuratdeniz)

Penyakit autoimun dapat menyerang siapa saja, tetapi perempuan terbukti lebih rentan dibandingkan laki-laki. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensi penyakit autoimun diperkirakan berkisar antara 3-5 persen, dengan sekitar 80 persen dari penderitanya adalah perempuan.

Risiko yang Lebih Tinggi pada Perempuan

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Vanessa L. Kronzer dan rekan-rekannya yang dipublikasikan dalam jurnal Evolutionary Applications pada tahun 2020, perempuan memiliki risiko penyakit autoimun hingga empat kali lebih besar dibandingkan laki-laki. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai faktor yang berpotensi berperan dalam hal ini, termasuk hormon seks, kromosom X, microchimerism, faktor lingkungan, dan mikrobioma. Meskipun demikian, penyebab pasti dari fenomena ini belum sepenuhnya terungkap.

Salah satu dugaan utama adalah perbedaan dalam jumlah dan kualitas antibodi yang terdapat dalam darah. Secara umum, perempuan memiliki kadar antibodi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dan antibodi ini berhubungan erat dengan banyak penyakit autoimun. Penelitian tersebut menemukan empat bukti yang mendukung teori ini. Pertama, terdapat hubungan antara kadar antibodi yang tinggi dengan peningkatan risiko autoimun, baik pada perempuan maupun pada laki-laki yang memiliki sindrom Klinefelter. Kedua, setelah melahirkan, baik kadar antibodi maupun kasus autoimun cenderung meningkat. Ketiga, semakin banyak kehamilan yang dialami, semakin tinggi kadar antibodi dan risiko autoimun. Terakhir, ada mekanisme biologis yang relevan, seperti aktivasi sel B oleh sel T dan peran VGLL3.

Stres sebagai Faktor Utama Penyebab Autoimun

Nyoman Kertia, seorang pakar Reumatologi dan Internis dari FK-KMK Universitas Gadjah Mada, menyatakan bahwa penyakit autoimun memang dipengaruhi oleh faktor genetik. Namun, ada faktor lain yang juga harus diperhatikan, seperti lingkungan, polusi udara, pola makan yang buruk, dan stres. Dari semua faktor tersebut, stres menjadi penyebab utama yang dominan untuk penyakit autoimun.

Nyoman menjelaskan, "Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul." Ia juga menambahkan bahwa ada tiga pemicu utama yang dapat memperburuk kondisi penderita autoimun. Pertama adalah kelelahan; meskipun gejala telah membaik, pasien tetap harus menjaga energi tubuh agar tidak mudah kambuh. Kedua, stres merupakan pemicu yang sulit dihindari. "Saya selalu mengatakan kepada pasien untuk tidak terlalu memikirkan penyakit mereka dan menyerahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," ujarnya. Pemicu ketiga adalah paparan sinar matahari yang berlebihan, yang sebaiknya dihindari dengan menggunakan payung, pakaian pelindung, atau tabir surya.

Pentingnya Gaya Hidup Sehat

Apabila seseorang telah didiagnosis dengan penyakit autoimun, pengobatan medis saja tidak cukup. Pengelolaan gaya hidup yang baik dan dukungan psikososial juga sangat penting. Prof. Ronny Rachman Noor dari IPB menyarankan agar pasien rutin berkonsultasi dengan dokter reumatologi dan imunologi agar terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pengobatan dapat mencakup NSAID, kortikosteroid, imunomodulator, atau terapi khusus seperti insulin untuk diabetes tipe 1.

Ronny menekankan, "Penderita autoimun disarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Langkah-langkah kecil ini dapat membantu mereka merasa lebih baik setiap hari."

Dengan demikian, mengapa perempuan lebih rentan terhadap penyakit autoimun? Jawabannya terletak pada kombinasi faktor biologis, hormonal, dan genetik. Meskipun penyebab utamanya belum sepenuhnya dipastikan, risikonya memang lebih tinggi pada perempuan. Oleh karena itu, pencegahan, deteksi dini, dan gaya hidup sehat menjadi hal yang sangat penting untuk mengendalikan penyakit autoimun sejak awal.