BREAKING Kamis, 18 Jun 2026 15:18 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Senin, 15 Jun 2026 19:15 WIB

Mengenal Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak yang Beragam

15 Jun 2026, 19:15 WIB 27x dibaca 4 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
B
Bagas Prakoso 27x dibaca · 4 menit baca
Ilustrasi. Gejala alergi susu sapi bisa berbeda-beda setiap anak. (iStockphoto/Elena Medoks)
Ilustrasi. Gejala alergi susu sapi bisa berbeda-beda setiap anak. (iStockphoto/Elena Medoks)

Alergi susu sapi pada anak sering kali sulit untuk dikenali. Gejala yang muncul dapat bervariasi, mempengaruhi saluran pencernaan, kulit, hingga saluran pernapasan. Bahkan, dua anak dalam satu keluarga yang mengalami alergi yang sama bisa menunjukkan keluhan yang berbeda.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menjelaskan bahwa gejala alergi susu sapi sangat beragam dan seringkali tumpang tindih dengan masalah kesehatan lainnya. "Setiap anak pasti berbeda. Bahkan kakak dan adik yang sama-sama mengalami alergi susu sapi bisa punya gejala yang berbeda," ungkapnya dalam sebuah acara menjelang World Allergy Week 2026 di Jakarta.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Menurut Molly, gejala alergi susu sapi paling umum muncul pada saluran pencernaan dan kulit. Namun, tidak jarang anak-anak juga mengalami gangguan pada saluran pernapasan. Berikut adalah beberapa gejala yang perlu diperhatikan oleh orang tua:

1. Gangguan pada saluran pencernaan: Sekitar 50-60 persen anak dengan alergi susu sapi mengalami masalah pencernaan, seperti kolik, konstipasi, muntah, hingga diare.

2. Keluhan pada kulit: Gejala kulit juga ditemukan pada sekitar 50-60 persen kasus, yang dapat berupa ruam kemerahan, bentol disertai gatal, hingga pembengkakan pada bibir atau kelopak mata.

3. Gangguan pada saluran pernapasan: Sekitar 20-30 persen anak dengan alergi susu sapi mengalami masalah pernapasan, yang dapat berupa pilek alergi, batuk kronis, atau napas berbunyi (wheezing).

Pentingnya Pemeriksaan Medis

Karena gejalanya yang bervariasi, orang tua disarankan untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mereka mengalami alergi susu sapi tanpa melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu. Molly menekankan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter.

"Kalau memang sudah merasa jangan-jangan anak saya alergi, langkah pertama sebaiknya melakukan konsultasi secara langsung ke dokter," ujarnya. Menurutnya, diagnosis alergi susu sapi memerlukan proses yang tidak dapat dipastikan hanya dalam satu kali kunjungan.

Dokter akan menelusuri riwayat kesehatan anak, jenis gejala yang muncul, durasi keluhan, pola makan, hingga kondisi gizi. Setelah itu, pemeriksaan fisik dilakukan dan langkah pemeriksaan lanjutan ditentukan sesuai kondisi masing-masing anak. "Untuk menegaskan diagnosis alergi susu sapi itu butuh proses. Tidak hanya sekali datang, lalu langsung dipastikan," jelas Molly.

Salah satu metode yang umum dilakukan adalah eliminasi, yaitu menghentikan sementara pemberian makanan atau minuman yang mengandung protein susu sapi. Proses eliminasi biasanya berlangsung antara 1-2 minggu hingga 2-4 minggu, tergantung pada gejala dan tingkat keparahan yang dialami anak. Selama periode ini, dokter akan memantau perkembangan kondisi anak. Jika gejala membaik, tahap berikutnya adalah provokasi, yaitu memperkenalkan kembali protein susu sapi untuk melihat apakah gejala muncul kembali.

"Kalau saat eliminasi gejalanya membaik, lalu saat provokasi muncul kembali, maka bisa dipastikan anak tersebut memang mengalami alergi susu sapi," tambahnya.

Asupan Nutrisi yang Tepat

Molly menegaskan bahwa anak dengan alergi susu sapi tetap harus mendapatkan asupan nutrisi yang cukup agar pertumbuhan dan perkembangannya tidak terganggu. Pada bayi yang masih mendapatkan ASI, pemberian ASI sebaiknya tetap dilanjutkan. Yang perlu dilakukan adalah ibu menyusui menghindari makanan dan minuman yang mengandung protein susu sapi sesuai dengan anjuran dokter.

"ASI jangan pernah distop. ASI dilanjutkan karena ASI itu yang terbaik. Yang dilakukan, bundanya yang stop makan protein susu sapi," kata Molly. Dalam situasi tertentu, jika bayi tidak dapat memperoleh ASI karena alasan medis atau lainnya, pemilihan nutrisi pengganti harus berdasarkan rekomendasi dokter.

Molly menjelaskan bahwa pemilihan nutrisi untuk anak dengan alergi susu sapi tidak bisa disamaratakan dan harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala. Untuk anak dengan gejala ringan hingga sedang, dokter dapat merekomendasikan extensively hydrolyzed formula atau formula terhidrolisis ekstensif sesuai indikasi medis. Sementara itu, pada anak dengan gejala berat, dokter dapat merekomendasikan formula berbasis asam amino yang mengandung molekul protein lebih kecil sehingga lebih mudah ditoleransi.

Untuk anak dengan gejala ringan hingga sedang, formula soya juga dapat menjadi pilihan kedua jika ada kendala ketersediaan atau biaya. Namun, Molly mengingatkan bahwa formula soya berbeda dengan susu kedelai biasa karena telah diformulasikan khusus dan dilengkapi berbagai zat gizi penting.

Di sisi lain, formula terhidrolisis parsial tidak direkomendasikan sebagai tata laksana alergi susu sapi. Formula ini tidak termasuk dalam kelompok formula khusus yang direkomendasikan untuk anak yang telah terdiagnosis alergi susu sapi.

Selain susu, makanan pendamping juga harus diperhatikan. Pada anak yang sudah mulai mengonsumsi makanan padat, menu yang diberikan harus tetap bebas dari protein susu sapi selama masih menjalani tata laksana alergi. "Kalau anak sudah mendapat makanan padat, selama anak tersebut masih mengalami alergi susu sapi, maka makanan padatnya juga harus bebas dari protein susu sapi," jelas Molly.

Alergi susu sapi bukan berarti anak harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nutrisi yang optimal. Kuncinya adalah mengenali gejala sejak dini, memastikan diagnosis melalui pemeriksaan dokter, menghindari pencetus, serta memilih asupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.