BREAKING Senin, 15 Jun 2026 20:06 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Senin, 18 Mei 2026 16:13 WIB

Mengenal Strain Bundibugyo, Varian Ebola yang Menjadi Sorotan

18 Mei 2026, 16:13 WIB 13x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
G
Galih Lingga Pradipta 13x dibaca · 3 menit baca
Mengenal Strain Bundibugyo, Varian Ebola yang Menjadi Sorotan
Ilustrasi. Penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola strain Bundibugyo jadi perhatian usai ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan global. (John WESSELS / AFP)

Jakarta, CNN Indonesia -- Virus Ebola kembali menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan status wabahnya. Penyakit yang disebabkan oleh strain Bundibugyo ini telah ditetapkan sebagai keadaan darurat kesehatan global atau public health emergency of international concern (PHEIC). Strain Bundibugyo sendiri merupakan varian Ebola yang jarang muncul dan hingga saat ini belum memiliki vaksin atau terapi spesifik yang diakui.

WHO menyatakan bahwa wabah ini menimbulkan kekhawatiran karena penyebarannya yang melintasi negara, meningkatnya jumlah kematian, serta adanya dugaan penularan yang tidak terdeteksi. Lalu, apa sebenarnya virus Ebola strain Bundibugyo dan mengapa dianggap berbahaya?

Karakteristik Virus Bundibugyo

Bundibugyo ebolavirus adalah salah satu varian dari virus Ebola. Virus ini dapat menyebabkan infeksi yang serius, memicu demam, kerusakan organ, hingga perdarahan dalam tubuh penderita. Pertama kali diidentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, saat wabah terjadi pada tahun 2007-2008. WHO mencatat bahwa strain ini hanya muncul dalam beberapa lonjakan kasus besar sejak pertama kali terdeteksi, dan kini kembali memicu wabah terbaru pada tahun 2026 di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Wabah Bundibugyo kali ini menciptakan ketidakpastian besar mengenai seberapa luas penyebarannya. Menurut laporan dari Guardian, beberapa faktor yang membuat wabah ini mengkhawatirkan antara lain keterlambatan dalam mendeteksi kasus, penyebaran di wilayah yang mengalami konflik dan pertambangan, serta terbatasnya fasilitas kesehatan di beberapa daerah yang terdampak. Mobilitas warga yang tinggi antara Uganda dan DRC juga berkontribusi pada peningkatan risiko penyebaran virus.

Perbandingan dengan Strain Ebola Lain

Berbeda dengan sebagian besar wabah Ebola sebelumnya yang disebabkan oleh strain Zaire ebolavirus, yang dikenal dengan tingkat kematian yang sangat tinggi dan sudah memiliki vaksin, Bundibugyo lebih jarang diteliti. Meskipun belum ada vaksin atau terapi khusus yang disetujui untuk Bundibugyo, beberapa penelitian menunjukkan bahwa strain ini mungkin memiliki tingkat fatalitas yang lebih rendah dibandingkan dengan beberapa varian Ebola lainnya. WHO mencatat bahwa angka kematian pada wabah Bundibugyo sebelumnya berkisar antara 30 hingga 50 persen, sementara beberapa wabah Zaire Ebola pernah mencatat fatalitas hingga 70-90 persen.

American Society for Microbiology (ASM) Journal bahkan menyebut Bundibugyo sebagai less pathogenic, yang berarti relatif kurang mematikan dibanding beberapa strain Ebola lainnya.

Proses Penularan dan Gejala

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menjelaskan bahwa penularan Ebola strain Bundibugyo terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita. Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang terkontaminasi atau melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi. Namun, virus Ebola tidak menyebar melalui udara seperti flu biasa, atau melalui air.

Gejala infeksi Ebola strain Bundibugyo umumnya mirip dengan varian Ebola lainnya, antara lain: demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, hingga perdarahan pada kasus yang parah. WHO mengingatkan bahwa deteksi dini dan isolasi pasien merupakan langkah penting untuk menekan penyebaran virus. Selain itu, penggunaan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan dan pelacakan kontak erat juga menjadi bagian penting dalam pengendalian wabah Ebola.