Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap infeksi Hantavirus setelah terdeteksinya klaster kasus di kapal pesiar MV Hondius. Andi Saguni, Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, menekankan pentingnya pemahaman mengenai cara penularan virus ini agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Kemenkes menjelaskan bahwa penularan Hantavirus dapat terjadi melalui dua jalur, yaitu dari hewan pembawa penyakit dan penularan antar manusia dalam kondisi tertentu.
Penularan Melalui Hewan Pembawa Penyakit
Penularan utama Hantavirus berasal dari hewan pembawa, terutama tikus dan celurut yang terinfeksi. Virus ini dapat menular ketika seseorang bersentuhan dengan gigitan, urine, feses, air liur, atau debu yang terkontaminasi sekresi dari hewan tersebut. "Faktor risiko utama adalah kontak erat dengan tikus celurut terinfeksi maupun paparan sekresi dan sekresinya," ungkap Andi dalam konferensi pers pada hari Senin (11/5).
Risiko terpapar virus ini meningkat bagi mereka yang bekerja atau beraktivitas di area yang memungkinkan kontak dengan tikus, seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pekerja selokan, hingga petugas laboratorium yang menangani hewan pembawa penyakit. Andi juga memperingatkan bahwa risiko paparan dapat muncul saat masyarakat beraktivitas di luar ruangan, seperti berkemah atau berada di lokasi yang berpotensi menjadi habitat tikus.
Penularan Antarmanusia yang Jarang Terjadi
Kemenkes menyatakan bahwa penularan Hantavirus antar manusia sangat jarang terjadi. Penularan ini dilaporkan terbatas pada Hantavirus yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan jenis Andes di Amerika Selatan, khususnya melalui kontak intens dan berkepanjangan. "Amerika Selatan, itu ada penelitian oleh Martinez tahun 2005 di Argentina menunjukkan bahwa transmisi antar-manusia yang disebabkan oleh Andes virus yang terjadi di kapal pesiar Hondius tersebut, disebabkan oleh Andes virus dan dapat terjadi penularan, terbatas pada kontak intens dan berkepanjangan," jelas Andi.
Andi menambahkan bahwa kondisi ini berbeda dengan Hantavirus tipe HFRS (Hemorrhagic Fever Renal Syndrome) yang ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Untuk tipe HFRS, hingga saat ini belum ada bukti penularan antar manusia. "Tetapi saya perlu sampaikan di sini bahwa untuk tipe HFRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," ujarnya.
Kemenkes sebelumnya juga menjelaskan bahwa Hantavirus yang ditemukan pada klaster kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Andes yang menyebabkan HPS. Sementara itu, hantavirus yang pernah dilaporkan di Indonesia adalah tipe Seoul yang menyebabkan HFRS. "Virus Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS, sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius," tutup Andi.