Jakarta, CNN Indonesia -- Bryan Johnson, seorang miliarder yang bergerak di industri teknologi, baru-baru ini menjadi sorotan publik. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah membekukan darah menstruasi kekasihnya, Kate Tolo, untuk keperluan penelitian. Pengakuan ini disampaikan Johnson melalui sebuah cuitan di platform X.
Dalam cuitannya, Johnson menjelaskan bahwa ia menyimpan sekitar 10 ml darah menstruasi Kate di dalam freezer dengan suhu yang sangat rendah, yaitu -80 derajat Celcius. "Darah haid Kate ada di dalam freezer saya yang bersuhu -80 derajat Celcius, sekitar 10 ml," tulisnya di X.
Tujuan Penelitian dan Kandungan Darah Menstruasi
Johnson melanjutkan bahwa sampel darah tersebut mengandung sel endometrium, sel imun, dan sel punca. Ia menyatakan bahwa Kate bersedia untuk menjadi 'objek eksperimen ilmiah' baginya, dan telah mengumpulkan darah tersebut selama siklus menstruasi terakhirnya. "Darah menstruasi itu berharga dan kurang dimanfaatkan. Kami mengumpulkannya untuk mencari jaringan yang sakit, mengukur mikroplastik, mengukur pengganggu endokrin, dan mengukur PFAS," ungkapnya.
Menurut Johnson, penelitian ini memberikan keuntungan karena data yang diperoleh tidak memerlukan prosedur biopsi bedah, dapat diulang setiap siklus menstruasi, dan memungkinkan pengukuran langsung terhadap lingkungan rahim, bukan hanya berdasarkan pengambilan sampel darah standar.
Harapan untuk Penyembuhan Melalui Teknologi
Melalui eksperimen ini, Johnson berharap dapat berkontribusi dalam penyembuhan berbagai penyakit, termasuk gastritis autoimun yang ia derita dan endometriosis yang dialami Kate. "Dengan AI dan bioteknologi, kita tidak perlu lagi menyerah pada penyakit. Kita tidak perlu menunggu perusahaan besar bernilai miliaran dolar untuk melakukannya untuk kita," tambahnya.
Darah menstruasi, yang sering kali dianggap sepele, sebenarnya memiliki kompleksitas yang lebih dalam. Cairan ini merupakan campuran dari berbagai komponen biologis yang berasal dari rahim dan saluran reproduksi. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam F&S Reviews menunjukkan bahwa darah haid berpotensi menjadi sampel diagnostik noninvasif untuk mendeteksi berbagai kondisi ginekologi.
Para peneliti melihat darah menstruasi sebagai 'jendela' untuk memahami kondisi endometrium tanpa perlu melakukan biopsi. Penelitian menunjukkan bahwa darah haid mengandung DNA dan RNA, protein spesifik, sitokin, sel punca, serta berbagai biomarker yang mencerminkan kondisi lapisan rahim.