BREAKING Minggu, 16 Agt 2026 11:13 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 14 Jul 2026 00:26 WIB

Pakar Sosiologi Ungkap Tiga Penyebab Meningkatnya Kasus Pencabulan Anak di Indonesia

14 Jul 2026, 00:26 WIB 92x dibaca 2 menit baca surabaya.kompas.com surabaya.kompas.com
R
Rizky Ananta 92x dibaca · 2 menit baca
Pakar Sosiologi Ungkap Tiga Penyebab Meningkatnya Kasus Pencabulan Anak di Indonesia
surabaya.kompas.com

Kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak kembali menarik perhatian masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai insiden serupa muncul di berbagai wilayah di Indonesia, yang tidak hanya menyebabkan luka fisik tetapi juga meninggalkan trauma psikologis yang dapat bertahan hingga anak tersebut dewasa. Rafi Aufa Mawardi, seorang dosen Sosiologi di Universitas Airlangga Surabaya, berpendapat bahwa masalah ini tidak dapat dilihat hanya sebagai tindakan kriminal semata.

Menurutnya, tingginya angka kasus pencabulan anak merupakan isu sosial yang perlu dianalisis lebih mendalam. "Saya memandang kasus ini urgent sekali untuk dianalisis secara sosiologis karena praktik pencabulan dan kekerasan terhadap anak ini sangat masif sekali terjadi di beberapa bulan belakangan ini yang secara signifikan dapat dilihat dalam berita nasional," ungkap Rafi pada Senin (13/7/2026).

Tiga Faktor Penyebab Kasus Pencabulan

Rafi menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang menyebabkan kasus pencabulan dan kekerasan terhadap anak terus berulang. Pertama adalah ketimpangan relasi kuasa antara pelaku dan korban. Dalam banyak situasi, anak berada dalam posisi yang sangat lemah, sehingga sulit untuk melawan atau mengungkapkan apa yang mereka alami. "Anak adalah korban dari praktik relasi kuasa yang dilanggengkan oleh sistem. Anak tidak memiliki power untuk memberikan respons yang konstruktif ketika menjadi korban dalam praktik pencabulan terhadap anak," jelasnya.

Dia menambahkan, pelaku sering kali dianggap sebagai pihak yang lebih dewasa dan memiliki kekuasaan, yang kemudian dimanfaatkan secara berlebihan. "Jadi pertama adalah ada relasi kuasa, pencabulan itu adalah manifestasi dari praktik relasi kuasa yang digunakan dengan negatif yang kemudian mengarah pada praktik asusila seperti ini," paparnya.

Lemahnya Kontrol Sosial dan Budaya Bungkam

Selain relasi kuasa, Rafi juga menyoroti lemahnya kontrol sosial sebagai faktor kedua yang memfasilitasi terjadinya pencabulan. "Praktik pencabulan terhadap anak adalah output dari praktik kontrol sosial yang tidak signifikan atau tidak maksimal. Secara sosiologis perilaku itu dapat dikontrol secara sosial sehingga perilaku yang dilakukan oleh seseorang akan sesuai dengan nilai dan norma," ujarnya.

Dia menekankan bahwa kurangnya pengawasan dari keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial membuat pelaku merasa tidak ada batasan dalam perilakunya. "Praktik-praktik anomali seperti ini dapat terjadi. Karena pelaku tidak merasa kontrol terhadap dirinya sehingga dia dapat melakukan apapun yang dianggap memuaskan yang tentu itu sangat melanggar nilai dan norma," lanjutnya.

Rafi juga menyoroti budaya mendiamkan kasus kekerasan seksual sebagai faktor ketiga. Banyak korban yang memilih untuk menyimpan pengalaman pahit mereka karena takut tidak dipercaya, mendapatkan stigma negatif, atau bahkan disalahkan oleh masyarakat. "Sehingga anak sebagai korban dari praktik relasi kuasa ini mereka memilih untuk diam," tutupnya.