Ketika berolahraga di tengah cuaca ekstrem, penting untuk memperhatikan kesehatan tubuh agar tidak mengalami masalah serius. Cuaca panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan jantung, seperti yang terjadi pada Agus Putranadi, yang meninggal dunia pada Minggu (14/6) saat mengikuti BTN JAKIM 2026. Hal ini menyoroti perlunya kewaspadaan saat beraktivitas fisik di luar ruangan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari BraveHeart - Brawijaya Hospital, Yamin, menjelaskan bahwa dehidrasi dapat memicu masalah jantung melalui gangguan keseimbangan elektrolit. "Cuaca panas yang ditakutkan itu kan dehidrasi. Kalau dehidrasi sampai mengganggu kadar elektrolit, yang bisa memicu 'konslet' pada listrik jantung," ungkapnya. Ia juga menekankan bahwa kejadian henti jantung umumnya terjadi pada individu yang sudah memiliki kelainan jantung yang belum terdiagnosis, seperti hipertrofi kardiomiopati.
Risiko Kesehatan saat Berolahraga di Cuaca Panas
Selain dehidrasi, heatstroke atau sengatan panas juga menjadi ancaman serius. Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh meningkat secara drastis dan tubuh tidak mampu mendinginkan diri dengan baik. Dokter Rafika Iezza Setyarini dari RS Lira Medika menyatakan bahwa olahraga di cuaca panas masih diperbolehkan, namun harus lebih berhati-hati terhadap kebutuhan cairan dan risiko heatstroke. "Boleh-boleh saja. Olahraga boleh kapan pun sebenarnya. Nggak harus pagi atau sore. Tapi kalau memang di suhu panas seperti ini mau olahraga siang hari outdoor, perhatikan banget asupan cairan dan risiko heatstroke," ujarnya.
Tips Berolahraga dengan Aman
Agar tetap aman saat berolahraga di cuaca panas, para dokter merekomendasikan beberapa langkah berikut:
- Penuhi kebutuhan cairan tubuh: Minumlah air sebelum, selama, dan setelah berolahraga. Jangan menunggu sampai merasa haus, karena rasa haus sering kali muncul saat tubuh sudah mulai dehidrasi.
- Gunakan pakaian yang tepat: Pilihlah pakaian yang ringan, longgar, dan dapat menyerap keringat. Hindari pakaian tebal atau berwarna gelap yang dapat menyerap panas lebih banyak.
- Kurangi intensitas olahraga: Saat suhu udara tinggi, sebaiknya turunkan intensitas latihan. Hindari memaksakan diri untuk mencapai target yang sama seperti saat cuaca lebih sejuk.
- Kenali batas kemampuan tubuh: Jangan abaikan sinyal yang diberikan tubuh. Jika merasakan sesak napas yang tidak biasa, nyeri dada, pusing, atau lemas berlebihan, segera hentikan aktivitas dan lakukan pemeriksaan kesehatan.
- Hindari paparan matahari berlebihan: Jika indeks UV tinggi atau cuaca sangat terik, pertimbangkan untuk berolahraga di dalam ruangan atau memilih waktu yang lebih aman, seperti pagi atau sore hari.
- Gunakan pelindung kulit: Aplikasikan tabir surya untuk mengurangi risiko kerusakan kulit akibat paparan sinar ultraviolet.
- Lakukan skrining kesehatan secara rutin: Pemeriksaan kesehatan, terutama skrining jantung, penting bagi mereka yang aktif dalam olahraga kompetitif maupun rekreasional. Ini dapat membantu mendeteksi penyakit yang belum disadari sebelum memicu masalah saat berolahraga.
Dengan mengikuti tips ini, diharapkan aktivitas fisik dapat dilakukan dengan aman meskipun dalam kondisi cuaca yang ekstrem.