BREAKING Jumat, 19 Jun 2026 17:24 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Jumat, 19 Jun 2026 07:00 WIB

Pemadaman Listrik di Semarang Ganggu Transaksi Digital, Minimarket Sepi Pembeli

19 Jun 2026, 07:00 WIB 6x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
A
Almira Rara Susanti 6x dibaca · 3 menit baca
Pemadaman Listrik di Semarang Ganggu Transaksi Digital, Minimarket Sepi Pembeli
regional.kompas.com

SEMARANG – Dalam sepekan terakhir, Kota Semarang, Jawa Tengah, mengalami pemadaman listrik yang berulang kali, yang tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak negatif pada perekonomian lokal. Minimarket dan ritel modern menghadapi kesulitan besar dalam menjalankan transaksi digital, akibat pemadaman yang membuat sistem pembayaran elektronik tidak berfungsi.

Akibat pemadaman listrik, banyak calon pembeli yang terpaksa membatalkan niat mereka untuk berbelanja karena tidak membawa uang tunai. Hal ini sangat terasa terutama di kalangan generasi muda yang lebih memilih menggunakan metode pembayaran berbasis QRIS. Dalam pantauan di salah satu minimarket di kawasan Pleburan, tampak suasana gelap gulita akibat pemadaman, membuat beberapa pengendara yang datang memilih untuk tidak berbelanja setelah mengetahui mesin kasir digital tidak dapat digunakan.

Kesulitan Pembeli dalam Berbelanja

Beberapa pembeli yang tetap ingin berbelanja terpaksa menggunakan senter dari ponsel mereka untuk melihat produk di rak. “Lumayan sering mati listrik minggu ini udah beberapa kali,” ungkap Asih, seorang kasir yang bertugas saat itu. Ia menambahkan bahwa pemadaman listrik pada sore hari itu berlangsung sekitar dua jam, yang berdampak pada hilangnya omzet toko karena banyak konsumen yang memilih untuk tidak berbelanja. “Iya sebagian memang enggak jadi beli karena enggak punya uang cash,” keluhnya mengenai penurunan pendapatan yang dialami.

Pembeli Terpaksa Meminjam Uang

Salah satu pembeli, Dwi, mengaku kebingungan saat hendak membayar di kasir dan terpaksa meminjam uang dari temannya karena dompetnya kosong. Ia hanya memiliki Rp 10.000 di saku. Dwi, yang mewakili generasi milenial, mengaku jarang membawa uang tunai dan lebih sering menggunakan QRIS untuk bertransaksi. “Ini sampai harus ngutang, karena udah kebiasaan anak muda sekarang beli apapun pake QRIS ya,” ujarnya. Ia juga menyatakan kekhawatirannya jika pemadaman listrik terus berlanjut dan berpotensi menyebabkan blackout yang lebih luas, yang akan mengganggu semua aspek kehidupan modern.

Dwi menambahkan, “Kalau satu kota mengalami blackout, karyawan yang kerjanya harus digital kayak saya mau kerja di mana kalau semuanya mati listrik? Kan aktivitas dan kerja bakal sulit.”

Manager Komunikasi PLN UID Jawa Tengah dan DIY, Prayudha Fasya Perdana, menjelaskan bahwa pemadaman yang terjadi disebabkan oleh masalah teknis operasional di unit pembangkit utama, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pasokan listrik. Ia memastikan bahwa PLN sedang berusaha untuk memperbaiki dan memulihkan kondisi secepat mungkin dan akan memberikan informasi perkembangan melalui saluran resmi.

“Untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Jawa Tengah serta terus mengupayakan percepatan pemulihan kondisi operasi pembangkit agar pasokan listrik dapat kembali normal,” ujar Prayudha. Ia menambahkan bahwa PLN terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk memastikan penanganan gangguan teknis berjalan dengan baik demi menjaga keandalan pasokan listrik jangka panjang.