Olahraga

Pemerintah China Hati-hati Terhadap Penggunaan OpenClaw di Lingkungan Kerja

Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan, pemerintah China mengambil langkah tegas dengan melarang pegawai negeri menggunakan aplikasi OpenClaw di perangkat kerja mereka.

A
Admin Fakta Lurus
07 May 2026 6 pembaca
Pemerintah China Hati-hati Terhadap Penggunaan OpenClaw di Lingkungan Kerja
Sumber gambar: tekno.kompas.com

KOMPAS.com - Dalam suasana euforia perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), pemerintah China justru bersikap hati-hati terhadap salah satu aplikasi AI yang sedang naik daun, yaitu OpenClaw. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan milik negara di China melayangkan peringatan kepada pegawai negeri agar tidak menginstal aplikasi OpenClaw di perangkat mereka.

Keputusan ini diambil karena regulator China mengkhawatirkan potensi masalah keamanan yang dapat ditimbulkan oleh teknologi tersebut, termasuk risiko kebocoran data, penghapusan data yang tidak disengaja, dan penyalahgunaan informasi pengguna. OpenClaw merupakan agen AI open-source yang dapat beroperasi secara mandiri untuk menjalankan berbagai tugas digital. Berbeda dengan chatbot AI generatif biasa yang hanya memberikan jawaban, OpenClaw mampu bertindak sebagai asisten digital yang dapat melakukan tindakan langsung di komputer atau server pengguna.

Kemampuan OpenClaw dan Penerimaannya di China

AI ini dapat dikendalikan melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp atau Telegram untuk melaksanakan berbagai perintah, mulai dari mengoperasikan terminal, mengontrol browser, hingga mengelola sistem komputer secara otomatis. Dengan kemampuan tersebut, OpenClaw berfungsi layaknya asisten digital yang dapat menyelesaikan tugas di komputer pengguna selama 24 jam penuh. Teknologi ini pertama kali diperkenalkan di GitHub pada November 2025 dengan nama Clawdbot, kemudian berganti nama menjadi Moltbot pada 27 Januari 2026, sebelum akhirnya dikenal sebagai OpenClaw pada 30 Januari 2026.

Sejak peluncurannya, OpenClaw menarik perhatian komunitas teknologi global berkat kemampuannya dalam menjalankan berbagai pekerjaan otomatis dengan sedikit campur tangan manusia. Di China, teknologi ini awalnya disambut baik oleh banyak pihak, termasuk perusahaan teknologi, startup AI, dan pemerintah daerah di kota-kota seperti Shenzhen, yang mendorong eksperimen penggunaan OpenClaw. Beberapa pemerintah daerah bahkan menawarkan subsidi jutaan yuan bagi perusahaan yang mengembangkan aplikasi berbasis teknologi ini sebagai bagian dari program nasional “AI Plus” untuk mempercepat adopsi teknologi AI di berbagai sektor.

Peringatan dan Pembatasan Penggunaan

Namun, di tengah antusiasme tersebut, regulator di Beijing mulai memperingatkan potensi risiko keamanan yang ditimbulkan oleh teknologi ini. Menurut beberapa sumber, instansi pemerintah dan perusahaan milik negara telah mengingatkan pegawai untuk tidak menginstal OpenClaw di perangkat kerja mereka demi alasan keamanan. Pegawai yang sudah menginstal aplikasi tersebut diminta untuk melapor kepada atasan agar perangkatnya dapat diperiksa dan aplikasi tersebut mungkin akan dihapus. Beberapa pegawai, termasuk yang bekerja di bank milik negara dan lembaga pemerintah, bahkan dilarang untuk menginstal OpenClaw di komputer kantor maupun di ponsel pribadi yang terhubung dengan jaringan kantor.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa pembatasan ini dalam beberapa kasus juga berlaku bagi keluarga personel militer. Meskipun demikian, tidak semua lembaga menerapkan larangan total, karena dalam beberapa pemberitahuan internal, penggunaan OpenClaw masih diperbolehkan dengan syarat mendapatkan persetujuan terlebih dahulu. Hingga saat ini, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China serta Komisi Pengawas dan Administrasi Aset Negara belum memberikan tanggapan resmi mengenai kebijakan ini.

Menurut laporan dari The Business Times dan Reuters, kekhawatiran utama pemerintah China berkaitan dengan akses luas yang dimiliki oleh agen AI seperti OpenClaw terhadap sistem perangkat. Untuk menjalankan berbagai tugas otomatis, AI ini biasanya memerlukan izin untuk mengakses data pengguna, aplikasi lain, serta koneksi internet. Akses yang luas ini berpotensi menimbulkan berbagai risiko keamanan, seperti kebocoran data sensitif, penghapusan data secara tidak sengaja, hingga kemungkinan penyalahgunaan akses oleh pihak luar. Para ahli keamanan siber juga memperingatkan bahwa kombinasi akses ke data sensitif, kemampuan berkomunikasi dengan jaringan eksternal, serta interaksi dengan konten yang tidak sepenuhnya terpercaya dapat meningkatkan potensi kerentanan sistem.

Meski demikian, belum ada kejelasan mengenai seberapa luas pembatasan penggunaan OpenClaw di China, karena beberapa pemerintah daerah masih terus bereksperimen dengan teknologi ini. Salah satunya adalah distrik Futian di kota Shenzhen yang dilaporkan menggunakan OpenClaw untuk mengembangkan agen AI yang dirancang untuk membantu pekerjaan pegawai pemerintah.

Artikel Terkait