Kementerian Haji dan Umrah melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) sedang mengintensifkan pengembangan ekosistem ekonomi haji untuk memaksimalkan potensi yang ada. Diperkirakan, potensi ekonomi dari haji dan umrah dapat mencapai sekitar Rp 80 triliun setiap tahunnya.
Direktur Jenderal PE2HU, Jaenal Effendi, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem ekonomi haji bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya memberikan manfaat dari segi pelayanan, tetapi juga menambah nilai bagi perekonomian nasional. Hal ini dicapai melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha lokal.
Strategi Pengembangan Ekonomi Haji
Jaenal Effendi menambahkan bahwa pemerintah terus memperkuat berbagai program strategis untuk meningkatkan kontribusi sektor haji dan umrah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa langkah yang diambil mencakup penguatan rantai pasok, peningkatan penggunaan produk lokal, serta pengembangan investasi di sektor yang mendukung penyelenggaraan haji.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah meningkatkan penetrasi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji dan umrah. Saat ini, pemerintah telah mendorong ekspor 28 jenis bumbu Nusantara dengan total volume lebih dari 300 ton, serta menyediakan sekitar 3,1 juta paket makanan untuk jamaah.
Pengembangan Sektor Transportasi dan Pariwisata
Selain itu, Ditjen PE2HU juga berfokus pada pengembangan sektor transportasi dan pariwisata. Salah satu inisiatif yang dilaksanakan adalah optimalisasi penerbangan kosong untuk mendukung kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia. Program ini, yang dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, telah berhasil melayani 1.723 penumpang dan akan terus ditingkatkan.