BREAKING Minggu, 14 Jun 2026 10:39 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Sabtu, 16 Mei 2026 03:59 WIB

Penelitian Menarik tentang Frekuensi Menstruasi Tiga Bulan Sekali

16 Mei 2026, 03:59 WIB 13x dibaca 2 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
G
Galih Lingga Pradipta 13x dibaca · 2 menit baca
Penelitian Menarik tentang Frekuensi Menstruasi Tiga Bulan Sekali
Ilustrasi. Peneliti asal China, Hongmei Wang, bakal mempelajari efek dari memperpendek durasi jarak menstruasi terhadap kesuburan perempuan. (iStockphoto/bymuratdeniz)

Seorang peneliti asal China, Hongmei Wang, saat ini tengah menyelidiki konsep yang menarik di bidang reproduksi. Penelitian ini berfokus pada kemungkinan mengatur menstruasi dengan interval yang lebih panjang, misalnya hanya sekali dalam tiga bulan. Wang ingin mengetahui apakah perubahan frekuensi menstruasi ini dapat berkontribusi pada perpanjangan masa subur perempuan.

Penelitian yang Menarik Perhatian

Menurut laporan dari El PAIS, penelitian ini berangkat dari pertanyaan besar: jika frekuensi menstruasi dapat dikurangi, apakah fungsi reproduksi perempuan dapat bertahan lebih lama? Wang adalah seorang profesor di Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences, dengan fokus penelitian yang berkaitan dengan biologi reproduksi, perkembangan awal manusia, dan penuaan ovarium. Gagasan yang sedang ditelitinya ini menarik untuk diikuti, meskipun penting untuk dicatat bahwa penelitian ini masih dalam tahap eksplorasi ilmiah dan bukan merupakan rekomendasi medis.

Saat ini, belum ada bukti klinis yang kuat yang menunjukkan bahwa menstruasi yang terjadi setiap tiga bulan dapat secara otomatis memperpanjang masa subur perempuan.

Metode Penekanan Menstruasi

Dalam dunia medis, ada kemungkinan untuk membuat menstruasi menjadi lebih jarang melalui metode yang dikenal sebagai penekanan menstruasi. Mengacu pada American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), metode ini dapat dilakukan dengan terapi hormonal tertentu untuk tujuan medis, seperti mengatasi nyeri haid yang parah, endometriosis, atau kondisi lain yang memerlukan pengendalian menstruasi. Namun, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa metode tersebut dapat menghemat jumlah sel telur atau memperpanjang masa subur.

Cadangan ovarium memang mengalami penurunan seiring bertambahnya usia, tetapi proses ini tidak sesederhana mengaitkan menstruasi bulanan dengan habisnya sel telur. American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menjelaskan bahwa penuaan reproduksi terkait dengan penurunan jumlah oosit atau cadangan ovarium melalui ovulasi dan atresia folikel, yang juga dipengaruhi oleh faktor usia.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak sel telur berkurang secara alami seiring waktu, dan tidak semuanya berkaitan langsung dengan siklus menstruasi yang terjadi setiap bulan. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan oleh Wang sangat menarik untuk diikuti, karena dapat membuka pemahaman baru tentang penuaan ovarium dan masa reproduksi perempuan. Namun, untuk saat ini, gagasan mengenai menstruasi tiga bulan sekali sebagai cara untuk memperpanjang masa subur masih perlu dibuktikan melalui penelitian klinis yang lebih mendalam pada manusia.