BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Kamis, 23 Jul 2026 22:16 WIB

Pentingnya Memeriksa Kesehatan Sebelum Mengikuti HYROX

23 Jul 2026, 22:16 WIB 98x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
K
Komang Yoga 98x dibaca · 3 menit baca
Peserta diingatkan untuk tidak asal ikut HYROX tanpa mengetahui kondisi dan kemampuan tubuh, mengingat olahraga ini memiliki intensitas tinggi. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)
Peserta diingatkan untuk tidak asal ikut HYROX tanpa mengetahui kondisi dan kemampuan tubuh, mengingat olahraga ini memiliki intensitas tinggi. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)

HYROX, yang belakangan ini menjadi tren di kalangan penggemar olahraga, adalah kompetisi yang mengombinasikan lari dengan latihan kekuatan. Meskipun menawarkan tantangan menarik, penting bagi peserta untuk memahami kondisi fisik mereka sebelum berpartisipasi.

Risiko Kesehatan yang Perlu Diperhatikan

Dokter spesialis penyakit dalam, Jessica Marsigit, mengingatkan bahwa HYROX adalah olahraga dengan intensitas tinggi. Dalam setiap perlombaan, peserta harus menyelesaikan delapan putaran lari yang di antara setiap putaran diselingi dengan delapan pos latihan fungsional, yang melibatkan hampir semua otot tubuh. "HYROX itu sebenarnya brand. Ibaratnya seperti kita menyebut semua air mineral dengan (sebuah merek). Olahraga ini menggabungkan lari dan strength training dalam satu kompetisi," jelas Jessica dalam sebuah talkshow di Jakarta Selatan.

Jessica menekankan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi akan meningkatkan kebutuhan energi dan oksigen dalam tubuh. Otot akan bekerja lebih keras, sehingga penting bagi tubuh untuk benar-benar siap sebelum menjalani latihan atau kompetisi. Memaksakan diri dalam kondisi fisik yang belum siap dapat meningkatkan risiko kelelahan berlebihan dan cedera. "Kalau dipaksakan dalam kondisi tubuh tidak siap, kita akan lebih cepat ngos-ngosan. Risiko cedera juga lebih besar. Karena itu memang harus ada persiapannya," tambahnya.

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Berolahraga

Bagi individu dewasa yang berusia antara 20 hingga 30 tahun dan tidak memiliki riwayat penyakit tertentu, Jessica merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana melalui kuesioner Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q). Kuesioner ini berisi pertanyaan untuk menilai apakah seseorang cukup aman untuk memulai olahraga dengan intensitas sedang hingga tinggi, termasuk pertanyaan mengenai riwayat nyeri dada, pingsan saat berolahraga, atau gangguan sendi.

Untuk mereka yang berusia di atas 40 hingga 50 tahun, disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan yang lebih menyeluruh sebelum mengikuti olahraga seperti HYROX. "Kalau usia di atas 40 atau 50 tahun, sebaiknya medical check-up dulu karena ini olahraga yang cukup berat," ungkapnya. Hal ini juga berlaku bagi individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi, di mana pemeriksaan kesehatan bertujuan untuk menilai kesiapan fisik.

Jessica juga menjelaskan bahwa memiliki riwayat penyakit jantung tidak selalu menjadi larangan untuk berolahraga. Namun, jenis dan intensitas latihan harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan dilakukan di bawah pengawasan dokter, khususnya dokter spesialis jantung. "Kalau memang ada riwayat penyakit jantung, jangan langsung mengikuti program latihan sendiri. Konsultasikan dulu dengan dokter. Nanti bisa dibuatkan program latihan yang bertahap sesuai kondisinya," jelasnya.

Karena HYROX memerlukan kerja jantung dan pasokan oksigen yang cukup besar, penting bagi peserta untuk memastikan bahwa mereka dalam kondisi yang baik sebelum berpartisipasi. "Kalau misalnya ada sakit jantung, takutnya pas lagi kita paksa lari, kebutuhan oksigennya naik. Itu yang biasanya bisa tiba-tiba pingsan, jatuh, atau bahkan bisa sampai meninggal," tambahnya.

Jessica mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan tren sebagai alasan untuk mengabaikan kesehatan. Olahraga tetap penting, tetapi jenis dan intensitasnya harus disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing individu. "Tetap olahraga, tetapi pilih olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh dan, bila memang memiliki penyakit tertentu, lakukan di bawah pengawasan dokter," tutupnya.