Jakarta, CNN Indonesia -- Pijat tidak hanya bermanfaat bagi orang dewasa, tetapi juga bagi bayi. Namun, orang tua harus menyadari bahwa memijat bayi tidak boleh dilakukan sembarangan. Mengapa demikian? Pijat bayi sering dianggap sebagai metode yang sederhana untuk menenangkan anak. Banyak orang tua percaya bahwa pijatan dapat membantu bayi tidur lebih nyenyak dan meningkatkan kesehatan mereka.
Di balik manfaat tersebut, ada satu hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua, yaitu bahwa bayi tidak boleh dipijat sembarangan. Dari perspektif medis, pijat bayi memang memiliki manfaat, tetapi manfaat tersebut hanya akan terlihat jika dilakukan dengan cara yang benar, lembut, aman, dan sesuai dengan kondisi bayi. Sebaliknya, teknik yang salah dapat berisiko menimbulkan masalah.
Risiko Pijat yang Tidak Tepat
Salah satu alasan utama mengapa bayi tidak boleh dipijat sembarangan adalah karena tubuh mereka yang masih dalam tahap perkembangan. Tulang, sendi, otot, dan kulit bayi jauh lebih sensitif dibandingkan dengan orang dewasa. American Academy of Pediatrics (AAP) menekankan bahwa pijat bayi seharusnya dilakukan dengan sentuhan yang cukup terasa, namun tetap lembut dan konsisten. Jika pijatan terlalu keras atau dilakukan dengan tekanan yang berlebihan, risiko cedera dapat meningkat. Beberapa laporan medis bahkan mencatat adanya kasus patah tulang pada bayi yang terkait dengan praktik pijat tradisional yang terlalu kuat. Ini menunjukkan bahwa bukan pijatnya yang berbahaya, tetapi cara pelaksanaannya.
Waktu yang Tepat untuk Memijat
Selain teknik, waktu juga sangat berpengaruh. Mengacu pada pedoman dari Cambridge University Hospitals, bayi sebaiknya tidak dipijat saat mereka sedang tidur, lapar, menangis, demam, atau mengalami infeksi. Dalam kondisi tersebut, tubuh bayi tidak siap untuk menerima stimulasi tambahan. Memijat bayi yang sedang tidak nyaman justru dapat memperburuk keadaan mereka. AAP menyarankan agar orang tua memperhatikan sinyal dari bayi, seperti apakah mereka tampak rileks dan menikmati sentuhan, atau justru gelisah. Jika bayi menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan, pijatan sebaiknya segera dihentikan.
Pendekatan ini juga ditekankan dalam pedoman medis yang menyatakan bahwa pijat bayi harus disesuaikan dengan kondisi bayi, bukan dipaksakan karena dianggap bermanfaat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pijat bayi memiliki manfaat. Sebuah tinjauan berjudul Effect of Infant Massage menemukan bahwa pijat bayi dapat membantu meredakan nyeri, mendukung kenaikan berat badan, serta membantu kondisi seperti jaundice. Selain itu, manfaat juga dirasakan dalam hubungan antara orang tua dan bayi, pertumbuhan, serta beberapa aspek perkembangan.
Namun, penelitian yang sama juga mengingatkan bahwa laporan mengenai efek samping masih terbatas, sehingga praktik pijat tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Jika ada keraguan, belajar dari tenaga kesehatan atau terapis yang terlatih bisa menjadi pilihan yang paling aman.