BREAKING Jumat, 19 Jun 2026 18:16 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Jumat, 15 Mei 2026 00:52 WIB

Penularan Malaria Knowlesi Terkendali, Tidak Menular Antar Manusia

15 Mei 2026, 00:52 WIB 13x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
K
Komang Yoga 13x dibaca · 3 menit baca
Ilustrasi. Jangan khawatir, penularan malaria knowlesi atau malaria monyet tidak dapat terjadi antarmanusia. (Pixabay/skeeze)
Ilustrasi. Jangan khawatir, penularan malaria knowlesi atau malaria monyet tidak dapat terjadi antarmanusia. (Pixabay/skeeze)

Jakarta, CNN Indonesia -- Malaria knowlesi, yang dikenal sebagai malaria monyet, tidak dapat menular antar manusia, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan penyebaran yang luas. Pada awal Mei, tercatat 357 kasus malaria knowlesi di Sabah, Malaysia, yang mengakibatkan satu kematian. Di saat yang sama, di Kabupaten Aceh Jaya, ditemukan 30 kasus.

Pentingnya Edukasi Mengenai Malaria Knowlesi

Untuk mencegah kepanikan di masyarakat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengadakan media briefing guna memberikan informasi mengenai malaria knowlesi. Penyakit ini termasuk dalam kategori malaria zoonotik yang disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi, yang berasal dari monyet dan dapat menular kepada manusia melalui gigitan nyamuk tertentu. Nyamuk yang terlibat aktif pada sore hingga pagi hari dan biasanya ditemukan di pinggir hutan.

Inke Nadia Diniyanti Lubis, seorang dokter spesialis anak yang juga merupakan anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, menyampaikan, "Malaria knowlesi terutama menggigit di jam-jam tertentu. Kalau di sini disampaikan, jam 5 pagi sampai jam 8, lalu jam 6 sore sampai jam 8 malam."

Komponen Penularan Malaria Knowlesi

Inke menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen yang diperlukan untuk terjadinya penularan kepada manusia. Pertama, adanya parasit Plasmodium knowlesi. Kedua, keberadaan monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina) yang secara alami membawa parasit tersebut. Ketiga, nyamuk Anopheles dari kelompok leucosphyrus.

Penularan kepada manusia hanya dapat terjadi jika nyamuk Anopheles yang telah menggigit monyet kemudian menggigit manusia. Oleh karena itu, kontak langsung antara monyet dan manusia tidak menyebabkan penularan jika tidak ada nyamuk Anopheles yang terlibat. Demikian pula, kontak manusia dengan nyamuk Anopheles yang tidak terinfeksi parasit P. knowlesi juga tidak akan menyebabkan penularan.

Hal ini menjadikan penyebaran malaria knowlesi tergolong terbatas, karena tidak dapat ditularkan antar manusia, apalagi melalui batuk. "Penularan ini tetap harus dilakukan dari gigitan nyamuk dari monyet ke manusia. Jadi, bukan dari udara ataupun bukan dengan kontak," ungkap Inke.

Inke juga menekankan bahwa habitat monyet dan nyamuk yang terlibat banyak ditemukan di hutan dan area pinggiran hutan. Oleh karena itu, masyarakat yang bekerja di hutan atau tinggal di dekat hutan berisiko lebih tinggi untuk terpapar gigitan nyamuk.

Inke menambahkan, meskipun terdapat kekhawatiran mengenai penularan melalui kebiasaan mengonsumsi daging monyet, hal tersebut tidak termasuk faktor risiko. "Nah, itu juga tidak termasuk menjadi faktor risiko karena penularannya harus melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit. Lalu digigit kembali masuk melalui darah. Jadi, bukan melalui makanan, bukan melalui udara ataupun dengan kontak," jelas Inke.

Gejala Malaria Knowlesi yang Perlu Diwaspadai

Mengenali gejala malaria knowlesi bisa menjadi tantangan. Inke menyatakan bahwa gejalanya sulit dibedakan dari jenis malaria lainnya dan demam biasa. Malaria knowlesi dapat menyebabkan gejala yang cukup parah. "Siklus hidupnya jauh lebih pendek. Jadi, mereka itu sangat cepat bereplikasi di dalam tubuh manusia," tambahnya.

Gejala umum yang perlu diperhatikan meliputi demam dengan siklus harian, menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual, dan muntah. Terkadang, gejala juga disertai batuk ringan dan nyeri perut. Jika kondisi pasien sudah parah, gejala yang lebih serius bisa muncul, seperti penurunan jumlah trombosit, napas cepat, air kencing yang sedikit atau berwarna pekat, serta perubahan warna pada mata dan kulit menjadi kuning.

Orang yang berada di daerah berisiko tinggi atau yang baru saja melakukan perjalanan ke daerah tersebut dalam satu hingga dua minggu terakhir harus memperhatikan gejala yang muncul dengan cermat. "Waktunya [masa inkubasi] biasanya satu sampai dua minggu setelah gigitan [nyamuk] baru terjadi gejala, dan ini tidak berbeda dengan malaria jenis lainnya," tutup Inke.