Hingga 31 Juli 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa sebanyak 73 juta warga Indonesia telah berpartisipasi dalam CKG. Angka ini bahkan melebihi capaian tahun 2025 yang mencapai sekitar 70 juta peserta. Dari pemeriksaan yang dilakukan, hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemukan di masyarakat.
Selain hipertensi, jutaan warga juga terdeteksi mengalami prehipertensi, obesitas, dan prediabetes, yang semuanya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan diabetes. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, MPH, mengungkapkan bahwa dari 52 juta peserta dewasa yang menjalani pemeriksaan tekanan darah, sekitar 4,9 juta orang terdiagnosis hipertensi, sementara 5,5 juta orang berada dalam kondisi prehipertensi.
Risiko Komplikasi dari Hipertensi
Hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah berada di atas batas normal secara terus-menerus. Jika tidak ditangani, hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, termasuk stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Endang menekankan, "Yang hipertensi kalau tidak dikendalikan bisa menjadi stroke, penyakit jantung, sampai gagal ginjal. Yang prehipertensi juga kalau tidak dikendalikan tahun berikutnya bisa menjadi hipertensi."
Obesitas dan Diabetes di Kalangan Warga
Obesitas juga menjadi salah satu temuan yang signifikan. Berdasarkan pemeriksaan indeks massa tubuh, sekitar 11 juta peserta teridentifikasi mengalami obesitas. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama untuk berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, serta beberapa jenis kanker.
Pemeriksaan gula darah menunjukkan beban diabetes yang masih tinggi di Indonesia, dengan sekitar 992 ribu peserta terdiagnosis diabetes. Selain itu, terdapat 1,9 juta orang dalam kondisi prediabetes, di mana kadar gula darahnya sudah lebih tinggi dari normal tetapi belum memenuhi kriteria diabetes. Kondisi prediabetes memerlukan perhatian khusus karena dapat dicegah dari berkembang menjadi diabetes dengan perubahan gaya hidup yang sehat.
Di samping itu, pemeriksaan profil lemak darah menemukan sekitar 205 ribu peserta mengalami dislipidemia, atau gangguan kadar kolesterol. Kemenkes mengakui bahwa cakupan pemeriksaan kolesterol masih belum optimal, menjangkau kurang dari separuh peserta. Endang menambahkan, "Kalau kombinasi diabetes dengan kolesterol tinggi itu risikonya cukup buruk. Karena itu kita harus menemukan masyarakat yang kolesterolnya tinggi agar bisa segera diturunkan."
Masalah Kesehatan pada Anak dan Remaja
Temuan CKG juga menunjukkan adanya berbagai masalah kesehatan pada anak dan remaja. Kemenkes mencatat sekitar 43 ribu bayi lahir dengan berat badan sangat rendah, dan sekitar 27 ribu bayi berisiko mengalami penyakit bawaan kritis. Selain itu, terdapat ribuan kasus gangguan hormon tiroid.
Pada kelompok balita dan anak prasekolah, masalah yang paling umum ditemukan adalah gigi berlubang, riwayat imunisasi yang belum lengkap, 46 ribu kasus gizi kurang, serta lebih dari 7.100 anak yang diduga menderita tuberkulosis (TB). Sementara itu, pada anak usia sekolah dan remaja, sekitar 2,2 juta anak diketahui memiliki tekanan darah di atas normal, 441 ribu kasus gizi kurang, dan 243 ribu gangguan penglihatan.
Temuan-temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan penyakit sejak dini, dengan fokus utama pada pengendalian hipertensi, diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi yang masih menjadi faktor risiko utama penyebab kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia.