BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Pada Selasa (5/5/2026), seekor Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang dikenal dengan nama "Lion" ditemukan tewas di sekitar Dusun Kampung Baru, Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Penemuan satwa langka yang dilindungi ini segera direspons oleh tim gabungan untuk melakukan evakuasi dan menyelidiki penyebab kematiannya.
Dedy Irawan, petugas dari Balai Pengelola Kelautan Pontianak, Ditjen PK Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Mahakam, menjelaskan bahwa penemuan ini berawal dari laporan yang diterima pada pukul 11.06 WITA. Saat itu, Balai Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (PKP) Pontianak mendapatkan informasi mengenai kematian pesut yang beredar di media sosial dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI). "Pukul 12.17 WITA, bangkai pesut berhasil ditemukan oleh rekan-rekan Pokdarwis Pela tidak jauh dari lokasi yang dilaporkan. Jasad tersebut kemudian dievakuasi ke rakit YK RASI di Desa Sangkuliman," ungkap Dedy pada Kamis (7/5/2026).
Proses Evakuasi dan Penanganan
Setelah tiba di lokasi evakuasi, petugas segera melakukan penanganan awal dengan memberikan es batu dan menutupi jasad dengan terpal untuk memperlambat pembusukan. Tim kemudian melakukan pengukuran morfometrik terhadap mamalia air tersebut sebelum melanjutkan dengan proses bedah bangkai (nekropsi). Dari hasil pengukuran, diketahui bahwa pesut tersebut berjenis kelamin jantan dengan panjang 235 cm dan berat 152 kilogram. Tim juga mencatat jarak antarujung ekor 70 cm dan panjang sirip bawah 40 cm. Sampel diambil dari tubuh pesut untuk diuji di laboratorium guna mengetahui penyebab kematiannya.
Seluruh proses penanganan selesai pada pukul 18.42 WITA, diakhiri dengan penguburan jasad pesut. "Penyebab kematian masih didalami. Kami menunggu hasil pemeriksaan sampel di laboratorium untuk mendapatkan simpulan yang akurat," tambah Dedy.
Penurunan Populasi Pesut Mahakam
Danielle Kreb, peneliti senior YK RASI, menyatakan bahwa pesut yang ditemukan mati adalah individu bernama “Lion”. Lion telah dipantau melalui foto identifikasi sejak tahun 1999, saat itu diperkirakan berusia 7 tahun. Dengan demikian, pesut ini diperkirakan kini berusia sekitar 30 tahun. Kematian Lion menyebabkan populasi Pesut Mahakam menyusut menjadi 65 ekor. “Data terakhir pada akhir Desember 2025 menunjukkan populasi Pesut Mahakam ada 66 ekor, sehingga kematian Lion mengakibatkan populasi yang tersisa hanya 65 ekor,” jelas Danielle.
Selanjutnya, saat ditemukan, kulit Lion telah mengelupas akibat pembusukan di air sungai. Tim juga menemukan sejumlah bukti fisik seperti lebam dan memar di area leher. Pemeriksaan organ dalam menunjukkan adanya gangguan pada sistem pencernaan. Tim juga menemukan gumpalan alat tangkap (rengge) dan tulang-tulang halus di dalam lambung pesut. "Paru-parunya menunjukkan ada udara di dalam saat mati, namun tidak ditemukan air. Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk toksikologi, histopatologi, logam berat, serta mikroplastik. Hasil uji laboratorium kemungkinan keluar sebulan lagi,” tambahnya.