LHOKSUKON, KOMPAS.com – Di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, petani tengah melakukan pembersihan lumpur di saluran irigasi dengan honor sebesar Rp 10.000 per meter. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembersihan lumpur pascabanjir yang dilaksanakan pada 26 November 2025, dan didanai oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat, melibatkan kelompok tani serta Universitas Malikussaleh (Unimal) di daerah tersebut.
Pelaksanaan Pembersihan di Beberapa Desa
Untuk tahap awal, program ini mencakup delapan desa di kecamatan setempat, dengan total area yang dibersihkan mencapai 401 hektar. Desa-desa yang terlibat antara lain Paloh Awe, Pintu Makmur, Panigah, Kuala Dua, Paloh Raya, Mane Tunong, Ulee Madon, dan Kambam. Di seluruh Aceh Utara, hanya 1.294 hektar sawah yang saluran irigasinya telah dibersihkan.
Khaliddin, seorang petani dari Desa Paloh Awe, menjelaskan bahwa pembersihan lumpur di saluran irigasi utama dilakukan menggunakan alat berat, sedangkan untuk saluran distribusi memanfaatkan tenaga petani lokal. Mereka mendapatkan upah sebesar Rp 10.000 per meter. “Jadi lumayan juga dilibatkan dalam program pembersihan lumpur. Agar bisa aktif kembali turun ke sawah. Karena, sawah sumber penghasilan utama kami,” ujarnya.
Pendapatan Tambahan bagi Petani
Dalam sehari, setiap petani dapat memperoleh pendapatan antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000, tergantung pada jumlah meter yang berhasil dikerjakan. Di Desa Paloh Awe, luas lahan dan saluran yang dibersihkan mencapai 74 hektare. “Siapa yang mau kerja dipersilakan ikut, tidak ada pembatasan. Targetnya empat minggu ke depan sudah selesai,” tambahnya.
Wahidin, Kepala Desa Kuala Dua, menyatakan bahwa pembersihan lumpur ini ditargetkan selesai pada pertengahan bulan Juni 2026. Saat ini, progres pengerjaan telah mencapai sekitar 50 persen. “Kami tentu senang menjadi desa pertama yang dibersihkan dari 600 lebih desa di Aceh Utara. Karena, warga kami bergantung pada hasil pertanian, kalau tidak turun ke sawah, sumber keuangan keluarga jadi kacau,” ungkapnya.
Erwandi, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Aceh Utara, menyampaikan bahwa program pembersihan lumpur tahap pertama dilaksanakan di Kecamatan Sawang, Muara Batu, Dewantara, dan Langkahan. “Tentu kita berharap setelah tahap satu selesai, tahap dua dapat dilanjutkan. Karena luasan area sawah yang rusak di Aceh Utara mencapai 39.762 hektar,” tuturnya.
Dari total 39.762 hektar lahan, sebanyak 18.316 hektar di antaranya terdampak banjir, dengan rincian 4.679 hektar mengalami kerusakan parah, 6.447 hektar rusak sedang, dan 7.189 hektar rusak ringan. “Karena itu, kami harap petani lainnya bersabar,” kata Erwandi.