Jakarta, CNN Indonesia -- Mengabaikan pola makan yang sehat dengan mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan lemak berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit serius. Di sisi lain, terlalu ketat dalam mengatur pola makan juga tidak baik. Misalnya, menghitung kalori secara berlebihan dan membuat daftar makanan yang dilarang demi penurunan berat badan dapat menyebabkan stres.
Untuk mengatasi masalah ini, salah satu solusinya adalah dengan menerapkan konsep makan intuitif atau intuitive eating. Terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan bagi mereka yang ingin mencoba metode ini. Konsep ini lebih menekankan pada pola makan yang mendukung kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh, bukan hanya sekadar untuk menurunkan berat badan.
Apa Itu Makan Intuitif?
Istilah intuitive eating pertama kali diperkenalkan pada tahun 1995 oleh Evelyn Tribole dan Elyse Resch dalam buku mereka yang berjudul Intuitive Eating (2020). Konsep ini mengajak kita untuk berkompromi dengan semua jenis makanan. Tujuannya adalah membantu individu menyelaraskan diri dengan sinyal tubuh mengenai apa dan seberapa banyak yang perlu dimakan. Dengan belajar untuk mendengarkan isyarat tubuh, seseorang dapat membangun pola makan yang berkelanjutan tanpa perlu mencatat kalori atau membatasi asupan makanan.
Menurut Healthline, prinsip intuitive eating sebenarnya sudah ada sebelum Tribole dan Resch memperkenalkannya. Geneen Roth telah menulis tentang makan sebagai respons terhadap emosi sejak tahun 1982. Sementara itu, pada tahun 1973, Thelma Wayler mendirikan program manajemen berat badan yang dikenal sebagai Green Mountain at Fox Run di Vermont, yang berlandaskan pada keyakinan bahwa diet tidak akan berhasil. Sebaliknya, perubahan gaya hidup dan perawatan diri dianggap lebih penting untuk kesehatan jangka panjang.
Prinsip-Prinsip Makan Intuitif
Jika Anda tertarik untuk menerapkan intuitive eating, berikut adalah beberapa prinsip yang perlu diingat:
- Hindari mengikuti pola diet tertentu: Menurut WebMD, mengikuti diet tertentu justru dilarang dalam konsep ini. Aturan makan yang ketat tidak menjamin penurunan berat badan dalam jangka panjang. Pembatasan makanan dapat menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi yang diperlukan untuk berfungsi dengan baik.
- Makan saat lapar: Dengarkan sinyal tubuh Anda dan makanlah ketika merasa lapar. Mengabaikan rasa lapar dapat membuat Anda cenderung makan berlebihan dan memilih makanan yang tidak sehat.
- Perhatikan rasa kenyang: Saat makan, sering-seringlah berhenti sejenak untuk mengecek tingkat rasa lapar. Nikmati pengalaman makan; jika Anda merasa puas dan bahagia, itu berarti Anda sudah cukup makan.
- Pilih makanan yang membuat nyaman: Dalam prinsip ini, pilihlah makanan yang memenuhi kebutuhan kesehatan dan selera Anda, bukan sekadar makan karena kewajiban. Moderasi adalah kunci; jika cokelat membuat Anda nyaman, nikmatilah dalam jumlah yang wajar.
- Hormati perasaan tanpa menggunakan makanan: Menurut BBC UK, makanan tidak selalu berkaitan dengan nutrisi. Makanan bisa digunakan untuk menenangkan diri, tetapi penting untuk menyadari bahwa makanan tidak dapat menyelesaikan masalah emosional. Carilah solusi untuk masalah emosional yang Anda hadapi.
- Hormati tubuh: Kebiasaan makan sering dikaitkan dengan bentuk tubuh. Dalam konsep intuitive eating, terimalah bahwa tidak ada bentuk tubuh yang ideal. Fokuslah pada hal-hal positif yang diberikan makanan kepada Anda.
- Gerakan dengan kesadaran: Dalam prinsip ini, disarankan untuk mengimbangi makan dengan aktivitas fisik, tetapi lebih ditekankan pada kesenangan bergerak daripada olahraga untuk menurunkan berat badan.
- Hormati kesehatan: Selain perasaan dan tubuh, kesehatan juga perlu dihormati. Meskipun penting untuk mendapatkan berbagai nutrisi, tidak semua makanan harus dimakan secara seimbang. Mengonsumsi makanan untuk kesenangan dan kepuasan juga baik untuk kesehatan, terutama kesehatan mental.
Itulah beberapa prinsip dari intuitive eating. Apakah Anda tertarik untuk mencoba menerapkannya dalam pola makan sehari-hari?