BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 03:42 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Rabu, 24 Jun 2026 10:47 WIB

Respon Apindo Terhadap Isu Relokasi Pabrik ke Vietnam dan Saran yang Diberikan

24 Jun 2026, 10:47 WIB 21x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
B
Bagas Prakoso 21x dibaca · 2 menit baca
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyampaikan pandangannya mengenai rencana relokasi sebagian produksi industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam. Ia menegaskan bahwa isu ini perlu diperiksa lebih jauh untuk mendapatkan kejelasan yang tepat.

“Keputusan relokasi produksi biasanya sangat spesifik dan bergantung pada kondisi masing-masing perusahaan, strategi prinsipal global, jenis industri, struktur biaya, hingga tuntutan pasar,” ungkap Shinta saat dihubungi di Jakarta.

Pentingnya Memahami Dinamika Investasi

Secara umum, Apindo mencatat bahwa persaingan antarnegara untuk menarik dan mempertahankan investasi di sektor manufaktur semakin ketat. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan global melakukan konsolidasi jaringan produksi, yang sering kali melibatkan pengurangan atau perampingan kapasitas di beberapa negara dan memusatkannya di lokasi yang lebih efisien dan strategis.

Shinta menambahkan bahwa keputusan untuk relokasi atau konsolidasi produksi sering kali merupakan bagian dari penataan ulang rantai pasok global serta strategi prinsipal untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi, biaya produksi, dan kebijakan industri yang berlaku di berbagai negara.

Fondasi Manufaktur Indonesia dan Tantangannya

Ia juga menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan global tidak hanya mempertimbangkan aspek biaya, tetapi juga kesiapan ekosistem industri secara keseluruhan. Hal ini mencakup kepastian regulasi, insentif investasi, rantai pasok lokal, produktivitas tenaga kerja, efisiensi logistik, ketersediaan lahan industri, kemudahan perizinan, serta dukungan dari otoritas dalam mengatasi hambatan operasional.

“Indonesia sebenarnya memiliki fondasi manufaktur yang cukup kuat. Salah satu indikatornya adalah Manufacturing Value Added (MVA),” lanjut Shinta. Pada tahun 2024, nilai MVA Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 265,07 miliar dolar AS, menempatkan Indonesia di posisi ke-12 dunia dan peringkat kelima di Asia setelah China, Jepang, Korea Selatan, dan India.

Namun, tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini bukan hanya terkait ukuran industri, melainkan juga kecepatan transformasi industrinya. Dalam periode 2020–2024, MVA Indonesia diprediksi tumbuh sekitar 16,1 persen, yang masih lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan India yang mencapai 29,2 persen dan Vietnam yang tumbuh sekitar 46,3 persen pada periode yang sama.

Shinta menekankan bahwa meskipun skala manufaktur Indonesia lebih besar dibandingkan Vietnam, negara-negara pesaing di kawasan ini bergerak lebih agresif dalam memperkuat kapasitas produksi dan ekosistem industri mereka.

“Kita terus mencermati pergerakan negara kompetitor di kawasan, seperti Vietnam yang cukup agresif membangun ekosistem industri yang terintegrasi,” tambahnya.

Ia mengajak semua pihak untuk tidak hanya melihat relokasi sebagai keputusan individual perusahaan, tetapi juga sebagai sinyal bahwa Indonesia perlu bergerak lebih cepat dalam meningkatkan kepastian investasi dan produktivitas. “Dalam semangat Indonesia Incorporated, Apindo siap menjadi mitra pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut,” tutup Shinta.