BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:11 WIB
Berita Terkini Selasa, 07 Jul 2026 02:52 WIB

--- Respon Menbud Fadli Zon Terhadap Fenomena di Gunung Kawi ---

07 Jul 2026, 02:52 WIB 89x dibaca 2 menit baca news.detik.com news.detik.com
R
Rizky Ananta 89x dibaca · 2 menit baca
Menbud Fadli Zon seusai penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026). (Taufiq Syarifudin/detikcom)
Menbud Fadli Zon seusai penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, Senin (6/7/2026). (Taufiq Syarifudin/detikcom)
---TITLEEXCERPT--- Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan tanggapan mengenai fenomena yang terjadi di Gunung Kawi, Jawa Timur, yang sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Ia menilai fenomena tersebut mencerminkan keragaman budaya Indonesia. ---CONTENT---

Jakarta - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan pandangannya tentang fenomena yang sedang ramai dibicarakan di Gunung Kawi, Jawa Timur. Menurutnya, kejadian ini merupakan cerminan dari keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Fenomena di Gunung Kawi mulai menarik perhatian publik setelah kedatangan Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah. Dalam unggahannya, Pesulap Merah menunjukkan ketertarikan terhadap isu dugaan pesugihan dan penggunaan tumbal yang berkembang di lokasi tersebut. Ia juga sempat melakukan wawancara dengan juru kunci setempat untuk menggali informasi lebih dalam.

Pentingnya Memahami Keberagaman Budaya

Fadli Zon menyatakan, "Itu kan kita, keberagaman kita ya di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi, di berbagai tempat ya, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama." Pernyataan ini disampaikan kepada wartawan setelah penetapan tanggal 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di TMII, Jakarta Timur, pada Senin (6/7/2026).

Realitas Kehidupan Masyarakat

Politikus senior dari Partai Gerindra ini menekankan bahwa setiap komunitas memiliki cara tersendiri dalam mendekati kebudayaan. Ia menambahkan, selama fenomena tersebut memberikan dampak positif dan tidak mengganggu masyarakat, maka hal itu dapat diterima. "Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat dan tidak mengganggu, tidak merusak, gitu ya, tentu itu kita anggap sebagai bagian dari realitas kehidupan kita," ujarnya.