Jakarta, CNN Indonesia -- Masalah stunting terus menjadi tantangan besar dalam kesehatan anak di Indonesia. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, sekitar 19,8 persen atau satu dari lima anak di Indonesia masih mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting memerlukan tidak hanya intervensi dari tenaga kesehatan, tetapi juga peningkatan pemahaman orang tua tentang tumbuh kembang anak.
Pentingnya Edukasi untuk Orang Tua
Dokter Spesialis Anak, Diana Nubatonis, menjelaskan bahwa memberikan edukasi langsung kepada orang tua merupakan langkah strategis dalam mempercepat pencegahan stunting di tingkat keluarga. Menurutnya, stunting bukan hanya masalah tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya, tetapi juga merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Hal ini dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas anak di masa depan.
Diana menekankan pentingnya pencegahan dan deteksi dini agar masalah gizi dapat diatasi sebelum terlambat. Ia menganjurkan agar orang tua secara rutin memantau tinggi dan berat badan anak serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memastikan pertumbuhan anak sesuai dengan usianya. Ia juga menilai kegiatan edukasi seperti Festival Sehat Ceria si Kecil dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang peran dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Senada dengan itu, Dokter Gigi Iien Adriany menyoroti tingginya angka stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain itu, akses terhadap produk nutrisi khusus bagi anak yang menunjukkan gejala gagal tumbuh atau pre-stunting masih terbatas. Iien menjelaskan bahwa intervensi gizi spesifik melalui pangan olahan untuk kondisi medis khusus dan pangan diet khusus dapat menjadi bagian dari penanganan anak yang berisiko tinggi mengalami stunting.
Ia menambahkan bahwa produk seperti PKMK dan PDK bukanlah susu formula biasa, melainkan pangan yang diformulasikan secara khusus di bawah pengawasan tenaga medis untuk membantu mencegah dan mengatasi malnutrisi energi protein dan kalori pada anak. Iien berharap kegiatan edukasi seperti Festival Sehat Ceria si Kecil dapat memberikan dampak yang lebih luas, mulai dari meningkatkan pemahaman masyarakat hingga mendukung pembangunan sumber daya manusia di NTT.
Masalah stunting memang belum merata di seluruh Indonesia. Beberapa daerah masih memerlukan perhatian lebih karena memiliki prevalensi yang jauh di atas rata-rata nasional. Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat memiliki prevalensi stunting sebesar 37 persen, atau sekitar 214.143 anak, menjadikannya sebagai provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi kelima di Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai gizi dan pemantauan pertumbuhan anak. Rizki Imam Ardhi, Sales Director Sarihusada, menyatakan bahwa pencegahan stunting memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar edukasi dan layanan nutrisi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Ia menekankan bahwa orang tua perlu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti skrining pertumbuhan anak serta memperoleh edukasi mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang, konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan pemenuhan nutrisi yang tepat sebagai langkah pencegahan stunting.
Sementara itu, Dokter Gideon Hartono, Founder dan CEO Apotek K-24, menegaskan bahwa upaya mengatasi stunting harus dilakukan secara bersama-sama. Ia menilai Festival Sehat Ceria si Kecil sebagai salah satu bentuk komitmen untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, dan deteksi dini, sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan optimal.
Gideon menambahkan, "Kami terus memperluas akses layanan kesehatan melalui penyediaan obat, vitamin, susu, alat kesehatan, layanan konsultasi apoteker, pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, hingga telemedicine. Langkah tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh layanan kesehatan sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting sejak dini."