Jakarta, CNN Indonesia -- Kebiasaan duduk dalam waktu lama dan kurangnya aktivitas fisik ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan jantung atau berat badan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan saluran kemih pada pria, bahkan di usia produktif. Spesialis Urologi dari Eka Hospital MT Haryono, Dyandra Parikesit, menyatakan bahwa pola hidup modern yang cenderung minim gerakan, ditambah dengan tingkat stres yang tinggi dan faktor genetik, menyebabkan masalah kesehatan saluran kemih semakin sering dijumpai pada pria muda.
"Banyak pria sering kali mengabaikan gejala gangguan saluran kemih dan baru ke dokter saat gejalanya memburuk. Meski dianggap penyakit orang tua, faktanya saat ini gangguan saluran kemih bisa dialami pria di usia berapa saja," ungkap Dyandra dalam keterangan tertulisnya.
Pentingnya Deteksi Dini
Menurut Dyandra, gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya berbagai gangguan urologi. Sayangnya, banyak pria tidak menyadari risiko tersebut karena gejala awal sering kali ringan atau tidak menimbulkan keluhan berarti. Deteksi dini menjadi penting untuk mencegah gangguan berkembang menjadi lebih serius dan memengaruhi kualitas hidup.
Pria berusia 30-an yang berada pada puncak produktivitas kerja termasuk dalam kelompok yang harus lebih waspada. Tekanan pekerjaan, kurang olahraga, kebiasaan merokok, dan stres berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan reproduksi serta saluran kemih. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah varikokel, yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di dalam kantung testis, yang merupakan salah satu penyebab infertilitas pria yang cukup umum dijumpai pada usia produktif.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Gangguan saluran kemih sering kali berkembang secara perlahan, sehingga banyak pria baru memeriksakan diri ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi aliran urine yang melemah, harus mengejan saat buang air kecil, urine menetes setelah berkemih, hingga sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil.
Memasuki usia 45 tahun ke atas, risiko gangguan saluran kemih semakin meningkat karena produksi hormon testosteron mulai menurun dan elastisitas jaringan saluran kemih berkurang. Pada usia ini, dokter juga menyarankan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala melalui pengecekan kadar ureum dan kreatinin. Evaluasi disfungsi ereksi juga penting karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal adanya gangguan pembuluh darah yang berkaitan dengan hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.
Meski sering dikaitkan dengan usia lanjut, gangguan saluran kemih sebenarnya dapat dicegah atau dideteksi lebih awal melalui skrining kesehatan urologi yang disesuaikan dengan usia. Bagi pria berusia 50 tahun ke atas, pemeriksaan prostat secara rutin menjadi langkah penting, salah satunya melalui tes darah untuk mengukur kadar Prostate-Specific Antigen (PSA), yang dapat membantu mendeteksi gangguan prostat sejak dini.
Pemeriksaan uroflowmetry juga dapat dilakukan untuk menilai kecepatan dan pola aliran urine, sehingga dokter dapat mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran kemih akibat pembesaran prostat jinak atau kondisi lainnya. Dyandra mengingatkan pria untuk tidak menunggu hingga merasakan sakit atau keluhan berat sebelum memeriksakan diri.
"Jangan menunda pemeriksaan urologi hanya karena merasa belum ada keluhan yang menyakitkan. Melakukan skrining sejak dini dapat membantu mempertahankan fungsi reproduksi, seksual, dan sistem ekskresi urin yang optimal hingga usia lanjut," tambah Dyandra.