BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:11 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Jumat, 31 Jul 2026 22:57 WIB

RMIT Dorong Pertumbuhan Industri Game di Indonesia, Targetkan 153 Juta Pemain

31 Jul 2026, 22:57 WIB 70x dibaca 3 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
G
Galih Lingga Pradipta 70x dibaca · 3 menit baca
Foto: Dok Istimewa
Foto: Dok Istimewa

Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 153 juta pemain game, dengan nilai pasar yang mencapai 1,9 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan potensi besar bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar game yang signifikan, tetapi juga untuk berkembang sebagai pengembang game orisinal yang kompetitif di kancah global.

Peluang dan Tantangan dalam Industri Game

Selama periode 2019 hingga 2025, Indonesia telah menghasilkan 203 judul game independen, yang setara dengan sepertiga dari total produksi game independen di Asia Tenggara. Namun, meskipun pasar yang besar dan talenta kreatif yang tersedia, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menciptakan lebih banyak studio lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional.

RMIT menekankan pentingnya menghubungkan potensi pasar game Indonesia dengan talenta industri, kemampuan komersial, dan jaringan internasional. Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, telah memfasilitasi pertemuan antara RMIT dan berbagai pemangku kepentingan di industri game Indonesia, termasuk Agate, salah satu pengembang game terkemuka, serta Asosiasi Game Indonesia (AGI). Pertemuan ini bertujuan untuk membahas langkah-langkah dalam memperkuat kapasitas studio lokal dan mendorong pengembangan kekayaan intelektual Indonesia.

Kolaborasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekosistem Game

Sejumlah tantangan yang dihadapi industri game nasional meliputi keterbatasan talenta tingkat lanjut, akses pendanaan, kemampuan komersial, kepemimpinan bisnis, dan akses pasar internasional. Para peserta diskusi sepakat bahwa kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, institusi pendidikan, dan investor sangat penting untuk mempercepat perkembangan ekosistem game di Indonesia.

“Indonesia telah memiliki pasar yang besar, talenta kreatif yang kuat, serta ekosistem pengembangan game yang terus bertumbuh,” ungkap Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, dalam pernyataannya kepada media di Jakarta. Dia menambahkan bahwa langkah selanjutnya adalah memastikan para pengembang dan pendiri studio tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga kemampuan bisnis dan wawasan internasional untuk membangun perusahaan yang berkelanjutan serta memperkenalkan kekayaan intelektual Indonesia kepada audiens global. "Pengembangan game kini membutuhkan kombinasi kompetensi yang semakin luas," ujarnya.

Selain programmer dan desainer, Tantia juga menyebutkan bahwa studio yang sedang berkembang memerlukan produser, tenaga pemasaran, hingga pemimpin yang mampu memahami audiens, mengelola proses produksi yang kompleks, menarik investor, dan membangun kemitraan internasional. Saat ini, industri game di Indonesia mengalami kesenjangan antara permintaan domestik dan produksi lokal. Game mobile mendominasi pasar, sementara banyak studio lokal lebih fokus pada game premium untuk PC dan konsol yang menyasar pasar luar negeri. Hal ini menciptakan peluang untuk memperkuat pemahaman pasar, memperluas strategi produk, dan mengembangkan konten yang relevan bagi konsumen Indonesia.

RMIT telah berperan dalam mendukung pengembangan kemampuan digital dan kreatif di Indonesia melalui kolaborasi dengan pemerintah dan industri. Pada tahun 2024 dan 2025, RMIT akan menjalin kemitraan dengan EKRAF dan Apple untuk menyelenggarakan pelatihan desain game digital.