BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 03:46 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Kamis, 25 Jun 2026 22:54 WIB

Sebagian Besar Pebisnis Global Sesuaikan Strategi Modal di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

25 Jun 2026, 22:54 WIB 31x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
R
Rizky Ananta 31x dibaca · 2 menit baca
Foto: ANTARA FOTO/Andri Saputra
Foto: ANTARA FOTO/Andri Saputra

Sebanyak 88 persen pelaku usaha dan investor di tingkat global telah melakukan penyesuaian terhadap strategi alokasi modal mereka sebagai reaksi terhadap meningkatnya ketidakpastian di dunia ekonomi. Faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik, tren kenaikan suku bunga di berbagai negara, serta tekanan terhadap likuiditas perusahaan menjadi alasan utama di balik perubahan ini.

HSBC menyebutkan hasil survei yang melibatkan 3.000 pelaku usaha dan investor di seluruh dunia, yang menunjukkan bahwa mayoritas responden telah melakukan restrukturisasi alokasi modal untuk menghadapi situasi yang semakin tidak stabil. Selain itu, sebanyak 89 persen responden juga melaporkan peningkatan penempatan modal di pasar yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan yang lebih baik.

Perubahan Strategis untuk Mempertahankan Daya Saing

Delia Melissa, Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, menjelaskan bahwa kondisi saat ini menjadikan akses terhadap modal kerja semakin krusial, terutama bagi pelaku usaha yang ingin menjaga kelancaran operasional sekaligus memperluas pasar ekspor. “Di tengah volatilitas yang meningkat, siklus pembayaran yang panjang, dan kenaikan biaya operasional, akses terhadap modal kerja kini telah menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga likuiditas dan pertumbuhan. Kemudahan akses modal kerja menjadi faktor krusial yang menentukan daya saing, khususnya bagi pebisnis Indonesia yang sedang ekspansi pasar ekspor,” tuturnya dalam keterangannya.

Kenaikan Kebutuhan Pembiayaan di Tengah Pertumbuhan Ekspor

HSBC juga mencatat bahwa kebutuhan pembiayaan usaha meningkat seiring dengan pertumbuhan positif dalam aktivitas perdagangan Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS pada bulan April 2026, meningkat 21,98 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai impor juga mengalami kenaikan sebesar 22,49 persen menjadi 25,21 miliar dolar AS.

Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan ini, HSBC Indonesia meluncurkan layanan HSBC TradeCash, yang merupakan solusi pembiayaan perdagangan yang memungkinkan pelaku usaha mendapatkan modal kerja dengan lebih cepat melalui pengajuan faktur penjualan secara digital, tanpa perlu menyertakan dokumen perdagangan konvensional. Vivek Ramachandran, Global Head of Trade HSBC, mengungkapkan bahwa layanan ini dirancang untuk membantu perusahaan dalam memperoleh pendanaan dengan lebih cepat sekaligus mengurangi beban administrasi. “Dengan menghadirkan akses pendanaan yang cepat, kami membantu bisnis mengalihkan fokus dari pengelolaan dokumen ke pemenuhan pesanan, investasi, dan ekspansi,” jelasnya.

HSBC menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik dan perang tarif telah menyebabkan lonjakan harga barang serta mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini membuat pelaku usaha semakin membutuhkan akses pembiayaan yang lebih cepat agar arus kas tetap terjaga dan kegiatan usaha dapat terus berlanjut.