BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:11 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Kamis, 16 Jul 2026 12:39 WIB

S&P Mengapresiasi DSI, Ekonom: Reformasi Struktural Indonesia Mulai Diakui

16 Jul 2026, 12:39 WIB 84x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
S
Shinta Islamadina 84x dibaca · 2 menit baca
Foto: Muhammad Nursyamsi
Foto: Muhammad Nursyamsi

Keputusan S&P Global Ratings untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil mencerminkan tidak hanya kekuatan fundamental ekonomi nasional, tetapi juga pengakuan terhadap reformasi struktural yang dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satu inisiatif yang mendapat perhatian adalah pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang bertujuan untuk mengoptimalkan penerimaan negara dan meningkatkan kinerja ekspor.

Pandangan Ekonom Terhadap Keputusan S&P

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keputusan S&P ini lebih baik daripada ekspektasi pasar. Ia menyatakan bahwa lembaga pemeringkat mulai melihat kebijakan ekonomi Indonesia dengan pandangan yang lebih positif. “Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia dengan outlook stabil merupakan perkembangan yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Ini menjadi sinyal bahwa lembaga pemeringkat mulai melihat perbaikan arah kebijakan ekonomi Indonesia,” ungkapnya pada hari Kamis (16/7/2026).

Fakhrul menjelaskan bahwa S&P mempertimbangkan beberapa faktor dalam keputusan ini, termasuk peningkatan penerimaan negara pada semester pertama tahun 2026, komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), serta penyesuaian belanja negara untuk mempertahankan disiplin fiskal.

Pentingnya DSI dalam Reformasi Ekonomi

Menurut Fakhrul, perhatian S&P terhadap DSI merupakan langkah penting, karena menunjukkan bahwa reformasi yang dilakukan pemerintah mulai diakui sebagai upaya untuk memperkuat fondasi ekonomi dalam jangka panjang. “Ini merupakan pengakuan bahwa reformasi yang sedang dilakukan mulai dipahami oleh investor global. Namun yang diapresiasi S&P bukan hanya idenya, melainkan keyakinan bahwa implementasinya akan semakin baik,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menilai prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga berkat ruang fiskal yang masih memadai. Ia memperkirakan pemerintah dapat mempertahankan defisit APBN 2026 di bawah 3 persen dari PDB, dengan rasio utang pemerintah yang masih berada di kisaran 40 persen, jauh lebih rendah dibandingkan batas 60 persen yang biasanya dijadikan acuan internasional. Selain itu, Indonesia juga memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang dapat digunakan sebagai bantalan fiskal jika terjadi gejolak ekonomi global.

“Modal fiskal ini penting untuk menjaga persepsi bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap sehat dan terkendali, sehingga kepercayaan investor dapat terus terpelihara,” tambah David. Mengenai pertumbuhan ekonomi, ia menilai prospek Indonesia masih cukup kuat, dengan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,78 persen pada tahun 2026, sementara Asian Development Bank (ADB) memperkirakan 5,2 persen, dan pemerintah menargetkan pertumbuhan antara 5,4 hingga 5,5 persen. Kombinasi disiplin fiskal, kondisi pembiayaan yang sehat, serta reformasi struktural yang mulai mendapat perhatian dari lembaga pemeringkat internasional menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas ekonomi Indonesia di mata investor.