BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 04:52 WIB
Berita Terkini Senin, 22 Jun 2026 07:14 WIB

Tanggapan Terhadap Sampah di Kali Gendong, Pansus DPRD DKI Rencanakan Biopori Jumbo

22 Jun 2026, 07:14 WIB 15x dibaca 3 menit baca news.detik.com news.detik.com
D
Doni Setiawan 15x dibaca · 3 menit baca
Foto: Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta Judistira Hermawan (dok. DPRD DKI)
Foto: Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta Judistira Hermawan (dok. DPRD DKI)

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa salah satu penyebab tumpukan sampah di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, adalah penutupan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menanggapi masalah ini, Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta berencana untuk mempercepat pembangunan biopori jumbo.

Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, menyatakan bahwa TPST Bantargebang saat ini sudah mengalami kelebihan muatan. Untuk mengurangi penumpukan sampah di kali dan jalan, ia meminta kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memanfaatkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang ada. "Terkait tumpukan sampah di Kali Gedong Jakarta Utara, ini segera saya akan koordinasikan antar SKPD ya Dinas LH dan Dinas Sumber Daya Air (SDA) termasuk Pak Wali Kota Jakarta Utara, agar ini segera ditangani, dalam situasi seperti ini ya kita akan mintakan jajaran terkait dijaga Kali atau Waduk ya, saya kira semua wilayah ya, juga dijaga jangan sampai sampah juga penuh di badan-badan jalan," ungkap Judistira kepada wartawan pada Senin (21/6/2026).

Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi

Judistira juga menyoroti proses pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta yang diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun. Selama periode tersebut, pihaknya akan memaksimalkan penggunaan TPS dan mengkaji pembangunan biopori jumbo sebagai solusi untuk mengatasi masalah sampah di Ibu Kota. "Jakarta direncanakan akan dibangun 3 atau 4 pengelolaan sampah yang menghasilkan energi listrik ya atau disebutnya PSEL, Pak Gubernur sudah menyampaikan itu, namun sampai semua itu nanti terbangun, ya kira-kira kan 2 sampai 3 tahun kan, maka Pansus Pengelolaan Sampah akan memastikan bersama Dinas LH ya, memaksimalkan fasilitas-fasilitas pengelolaan sampah di Jakarta ini, kita ada 31 TPS 3R se-DKI Jakarta, diluar Depo Depo yang dimiliki Dinas LH kemudian kita punya RDF di Rorotan dan RDF di Bantargebang," tuturnya.

Ia menambahkan, "Ini semua harus berfungsi maksimal, dan Pansus sedang mengkaji kemungkinan pembangunan Biopori Jumbo di berbagai wilayah di Jakarta, apa di taman-taman, atau aset BUMD, ini lagi kita kaji, ya dan tentu sekali lagi ini semua perlu dukungan luas dari seluruh masyarakat dengan gerakan pilah sampah dari sumbernya."

Viralnya Tumpukan Sampah di Media Sosial

Sebelumnya, Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi viral di media sosial setelah terlihat dipenuhi tumpukan sampah. Dalam video yang beredar, tampak beberapa warga membuang sampah sembarangan. Dalam rekaman yang dilihat pada Minggu (21/6/2026), terlihat sampah menumpuk di sekitar jembatan, dengan warga yang melintas membuang sampah yang dibungkus ke dalam kali.

Gubernur Pramono Anung juga memberikan tanggapan mengenai masalah ini. Ia menyebutkan bahwa penumpukan sampah di kawasan tersebut sebagian besar disebabkan oleh penutupan TPST Bantar Gebang. "Memang kemarin karena Bantar Gebang sempat ada masalah, jadi beberapa tempat memang terjadi tumpukan sampah," jelas Pramono kepada wartawan setelah acara pencanangan pedestrian deck Dukuh Atas di Setia Budi, Jakarta Selatan, pada Minggu (21/6).

Meski demikian, Pramono menyatakan bahwa masalah tersebut sudah mulai ditangani dan terlihat adanya penurunan jumlah tumpukan sampah. "Tetapi alhamdulillah sekarang ini penanganannya sudah bisa diatasi hampir di semua daerah yang terjadi penumpukan, secara pelan-pelan mengalami penurunan," jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa setiap hari Jakarta mengirim sampah menggunakan 1.200 truk, yang setara dengan sekitar 9.000 ton. "Dan juga pilah sampah mengurangi secara signifikan jumlah sampah yang harus diangkut ke Bantar Gebang. Dan kami seperti diketahui, menargetkan 1 Agustus yang akan dikirim ke Bantar Gebang adalah residunya," tuturnya.