Olahraga

Tantangan AI dalam Menggantikan Peran Guru

Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) dalam mengotomatisasi pekerjaan menimbulkan kekhawatiran akan penggantian peran manusia, terutama dalam profesi tertentu. Namun, penelitian menunjukkan bahwa peran g...

A
Admin Fakta Lurus
10 May 2026 8 pembaca
Tantangan AI dalam Menggantikan Peran Guru
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mengotomatisasi berbagai tugas telah memicu spekulasi bahwa teknologi ini akan mengambil alih sejumlah pekerjaan di berbagai sektor. Menariknya, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Anthropic, sebuah perusahaan yang fokus pada pengembangan model AI generatif bernama Claude, menunjukkan bahwa profesi guru atau pendidik lebih sulit untuk digantikan oleh AI dibandingkan dengan programmer.

Dalam laporan berjudul "Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence", para peneliti mengungkapkan bahwa meskipun institusi pendidikan sudah mulai memanfaatkan AI untuk mendukung proses belajar, tugas pengajaran yang dilakukan oleh guru di kelas masih belum dapat dilakukan oleh mesin. Di sisi lain, pekerjaan programmer yang melibatkan coding, pembaruan, dan pengelolaan perangkat lunak kini mulai banyak diambil alih oleh sistem otomatis AI.

Potensi Otomatisasi dalam Berbagai Profesi

Dalam laporan tersebut, para peneliti mengidentifikasi berbagai tugas yang berpotensi untuk diotomatisasi oleh AI. Mereka juga melakukan perbandingan antara potensi tersebut dengan data penggunaan chatbot Claude oleh profesional di dunia kerja saat ini. Anthropic menyimpulkan bahwa adopsi AI di lingkungan kerja masih jauh dari batas kemampuannya, dan laporan ini juga memetakan profesi mana saja yang mulai terancam oleh AI dan mana yang masih aman.

Secara keseluruhan, laporan ini mencatat bahwa profesi yang paling berisiko digantikan oleh AI adalah pekerjaan yang berhubungan dengan aktivitas digital di depan layar. Programmer menempati posisi teratas dengan 74,5% berisiko, diikuti oleh customer service (70,1%), data entry (67,1%), dan spesialis rekam medis (66,7%). Pekerjaan lain yang juga terancam termasuk analis riset pasar, tenaga penjualan, dan analis keuangan.

Profesi yang Tahan Terhadap AI

Sementara itu, laporan tersebut juga mencatat bahwa sekitar 30% pekerja di Amerika Serikat memiliki tingkat paparan AI yang sangat rendah. Pekerjaan yang membutuhkan interaksi sosial langsung, seperti guru dan tenaga pendidik, masih sulit untuk digantikan oleh mesin. Meskipun AI dapat digunakan untuk menilai pekerjaan rumah atau tugas siswa, pengelolaan ruang kelas tetap menjadi ranah manusia.

Begitu pula dengan profesi perawat, pekerja lapangan, dan pengacara litigasi yang masih jauh dari ancaman otomatisasi. Menariknya, laporan ini juga mengungkapkan bahwa pekerja dengan pendidikan tinggi dan gaji besar justru lebih rentan terhadap penggantian oleh AI. Data menunjukkan bahwa lulusan sarjana dan pascasarjana mendominasi pekerja yang terpapar AI, meskipun gaji mereka lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja yang tidak terpapar AI.

Meskipun kekhawatiran akan penggantian pekerjaan oleh AI terus meningkat, laporan ini menunjukkan bahwa hingga saat ini belum ada lonjakan signifikan dalam angka pengangguran, bahkan di kalangan profesi yang paling terancam. Dengan demikian, ancaman pemutusan hubungan kerja massal akibat AI tampaknya belum menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Artikel Terkait