BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Rabu, 15 Jul 2026 18:35 WIB

Tingginya Angka Anemia pada Anak dan Upaya Pencegahannya Sejak Dini

15 Jul 2026, 18:35 WIB 84x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
R
Rizky Ananta 84x dibaca · 3 menit baca
Ilustrasi. Anemia defisiensi besi masih jadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai, karena bisa menyerang anak-anak. (iStock/GlobalStock)
Ilustrasi. Anemia defisiensi besi masih jadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai, karena bisa menyerang anak-anak. (iStock/GlobalStock)

Jakarta, CNN Indonesia -- Anemia defisiensi besi terus menjadi isu kesehatan yang sering terabaikan. Kondisi ini, yang disebabkan oleh kekurangan zat besi, dapat memengaruhi pertumbuhan anak secara signifikan, termasuk kesehatan fisik, perkembangan otak, dan kemampuan belajar. Masalah ini dapat muncul sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Oleh karena itu, pencegahan sejak awal dianggap sangat penting untuk memastikan anak tumbuh dengan sehat dan mencapai potensi terbaiknya.

Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 27,7 persen ibu hamil mengalami anemia, sementara 23,8 persen anak balita di Indonesia juga mengalami kondisi serupa.

Pentingnya Asupan Zat Besi

Pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dian Novita Chandra, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus anemia di tanah air disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dalam pola makan sehari-hari. Ia menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan zat besi sebaiknya dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang berasal dari sumber protein hewani seperti daging, ikan, dan hati. Selain itu, vitamin C juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan penyerapan zat besi di tubuh.

"Untuk memenuhi asupan zat besi yang optimal, dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi seimbang yang banyak bersumber dari protein hewani yang kaya zat besi. Selain itu, untuk memaksimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh, juga dibutuhkan vitamin C," ungkap Dian dalam keterangannya.

Ia juga menyarankan agar orang tua mempertimbangkan makanan atau minuman yang telah difortifikasi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak.

Deteksi Dini dan Edukasi Nutrisi

Dian menambahkan bahwa skrining faktor risiko kekurangan zat besi sebaiknya dilakukan secara rutin, bahkan sejak masa kehamilan. Langkah ini dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum anemia menjadi lebih parah.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa masalah anemia pada ibu hamil dan anak masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara bersama-sama. "Hasil survei menunjukkan ibu hamil dan anak di Indonesia masih banyak mengalami masalah kesehatan seperti anemia. Masalah ini masih terjadi karena kurangnya pemahaman tentang makanan bergizi yang dibutuhkan anak. Oleh karena itu, edukasi makanan bergizi harus menjadi perhatian seluruh multipihak untuk terus bersama-sama membangun kesadaran masyarakat," tuturnya.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat merupakan kunci untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya gizi sejak awal kehidupan. Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026, Danone Indonesia juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan edukasi tentang anemia defisiensi besi dan mendorong skrining risiko sejak dini.

Direktur Nutrisi Kesehatan Danone Indonesia, Vera Saw, menegaskan bahwa defisiensi zat besi masih menjadi masalah yang dapat menghambat pertumbuhan generasi muda di Indonesia. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Danone Indonesia menyebutkan telah mendukung lebih dari 1,25 juta skrining melalui aplikasi digital eNutri sejak 2025 dan menargetkan penambahan 14 juta skrining hingga tahun 2030. Perusahaan juga melanjutkan program edukasi gizi bersama tenaga kesehatan dan komunitas, termasuk kegiatan skrining risiko anemia bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di berbagai wilayah.

"Upaya membantu mencegah anemia defisiensi besi memerlukan peningkatan kesadaran yang berkelanjutan, edukasi yang aplikatif, serta identifikasi dini terhadap faktor risiko. Melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan mitra komunitas, kami berharap semakin banyak anak memperoleh asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal," kata Vera.