BAJAWA, KOMPAS.com – Tim dari Kompas.com dan Plan Indonesia tiba di SD Katolik Bekek setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dari Kota Bajawa pada Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 15.00 Wita. Kedatangan tim disambut hangat oleh para guru dan beberapa siswa yang telah menunggu sejak pagi. “Silakan masuk bapak, ibu. Selamat datang di sekolah kami,” kata Kepala SDK Bekek, Monika Owa, saat menyambut tim. Sekolah yang terletak di Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini telah beroperasi sejak tahun 1952.
Menariknya, SD Katolik Bekek berada di tengah pemukiman umat Muslim, sehingga mayoritas siswa dan guru di sekolah ini beragama Muslim. “Jumlah siswa semuanya ada 57 orang, yang agama Katolik 12 orang, sisanya muslim. Gurunya juga banyak muslim,” ungkap Monika. Dia menambahkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah masalah, karena umat Muslim dan Katolik telah hidup berdampingan di wilayah tersebut selama bertahun-tahun.
Kondisi Fisik Sekolah yang Memprihatinkan
Kondisi fisik sekolah juga menjadi perhatian, di mana beberapa atap di teras kelas mengalami kerusakan. Terdapat tiga kelas yang memerlukan perbaikan karena atap yang bolong, yang dapat mengganggu proses belajar siswa. SD Katolik Bekek direncanakan akan mendapatkan bantuan revitalisasi pada tahun ini. Monika menjelaskan bahwa orang tua siswa selalu mengajarkan anak-anak mereka tentang pentingnya hidup bertoleransi. “Anak-anak di sini sangat toleran, karena mereka sudah diajarkan sejak kecil. Semangat belajar mereka juga sangat tinggi,” katanya.
Rata-rata siswa di sekolah ini berasal dari keluarga kurang mampu, dengan orang tua yang bekerja sebagai nelayan dan petani. Namun, banyak dari mereka hidup dalam kesulitan, terutama saat musim hujan, yang membuat para nelayan tidak dapat melaut dan para petani sering menghadapi masalah hama serta cuaca buruk yang menyebabkan gagal panen. Hal ini berdampak pada kemampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
Permohonan Bantuan untuk Perbaikan Sekolah
Monika menambahkan bahwa kondisi sekolah yang rusak parah menjadi tantangan tersendiri. Atap yang bocor, ruang kelas yang rusak, serta keterbatasan fasilitas belajar mengganggu proses belajar mengajar. Sekolah ini mulai mengalami kerusakan parah sejak tahun 2010, dan hingga saat ini, belum ada upaya perbaikan yang signifikan. Pihak sekolah telah mengajukan permohonan bantuan perbaikan ke pemerintah daerah, namun belum ada tindak lanjut. “Kalau hujan deras, kegiatan belajar mengajar harus dihentikan demi keselamatan siswa,” ujarnya.
Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada (Yasukda), RD Silverius Betu, mengungkapkan rasa terima kasih kepada Kompas.com yang telah memilih SDK Bekek sebagai salah satu sekolah penerima bantuan. Menurut Silverius, SDK Bekek merupakan contoh nyata dari semangat toleransi dan kebersamaan dalam dunia pendidikan. “Karena keunikan itulah, sehingga kami tetap pertahankan keberadaan SDK Bekek,” tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen untuk memberikan informasi yang jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme yang transparan dan nikmati kenyamanan membaca tanpa iklan melalui Membership. Bergabunglah dengan KOMPAS.com Plus sekarang.