Regional

Tradisi Methik Pari: Ungkapan Syukur Warga Glinggang atas Hasil Panen Padi

Warga Desa Glinggang, Ponorogo, merayakan tradisi methik pari sebagai bentuk syukur atas panen padi yang melimpah, dengan berbagai ritual dan simbol yang mendalam.

R
Rizky Ananta
30 April 2026 4 pembaca
Tradisi Methik Pari: Ungkapan Syukur Warga Glinggang atas Hasil Panen Padi
Sumber gambar: surabaya.kompas.com

PONOROGO, KOMPAS.com - Di saat matahari mulai terbit di ufuk timur, sinar keemasannya menyinari ladang padi yang mulai menguning di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dalam suasana yang hangat, warga berkumpul untuk merawat tradisi dan memanjatkan rasa syukur atas hasil panen yang akan segera mereka ambil. Kegiatan methik pari, yang merupakan tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan kepada tanaman padi yang siap dipanen, pun dilaksanakan dengan khidmat.

Di barisan depan, sejumlah sesepuh desa memimpin ritual, diiringi dengan alunan kesenian tradisional yang menghadirkan simbol Raden Sedoni dan Roro Blonyoh sebagai lambang kemakmuran. Selain itu, terdapat tangga bidadari yang melambangkan turunnya Dewi Sri dari kayangan ke bumi, membawa kesuburan bagi para petani. Rombongan kemudian bergerak dari kantor desa menuju area persawahan, di mana terlihat Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita, Wakil Ketua DPRD Ponorogo Evi Dwitasari, Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Heru Suseno, dan Sekda Ponorogo Agus Sugiarto.

Ritual dan Makna Tradisi

Di belakang rombongan, warga membawa ratusan tumpeng sambil melantunkan doa, menyatu dengan suasana pagi yang sakral. Tradisi methik pari menjadi penanda datangnya panen raya sekaligus ungkapan syukur masyarakat. Lebih dari sekadar ritual, methik padi mengandung makna filosofis yang dalam, menjadi pengingat akan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam pandangan masyarakat Jawa, padi bukan hanya sekadar tanaman, melainkan sumber kehidupan yang harus dihormati.

Proses methik menjadi simbol permohonan izin kepada alam sebelum mengambil hasilnya, serta penghormatan kepada Dewi Sri sebagai penjaga kesuburan. Sesepuh Desa Glinggang, Riyanto, menjelaskan bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan dan rasa hormat kepada alam. “Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi mengandung nilai kebersamaan, rasa hormat kepada alam, serta pengingat agar manusia selalu bersyukur atas apa yang diperoleh,” ujarnya di sela-sela kegiatan methik.

Prosesi dan Kebersamaan

Secara berurutan, ritual methik padi dimulai dengan kirab atau arak-arakan warga dari balai desa menuju area persawahan, di mana warga membawa tumpeng dan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran. Setelah itu, sesepuh memimpin doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran panen. Tahap berikutnya adalah pemetikan padi pertama oleh sesepuh atau tokoh yang dituakan, yang menjadi simbol dimulainya panen. Padi yang dipetik biasanya dipilih secara khusus dan diperlakukan dengan penuh penghormatan.

Ritual dilanjutkan dengan simbolisasi turunnya Dewi Sri melalui tangga bidadari. Setelah seluruh rangkaian selesai, warga menggelar kenduri atau makan bersama dengan tumpeng di tengah sawah sebagai ungkapan syukur dan kebersamaan. Suwarti, salah satu warga, mengungkapkan bahwa ia telah mengikuti tradisi methik padi sejak tahun 2016. Dalam tradisi tersebut, warga bergotong royong membuat ratusan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur atas panen padi yang melimpah dengan harga gabah yang tinggi. “Tradisi methik pari (padi) merupakan tradisi rutin menjelang panen raya. Ini sudah menjadi tradisi setiap tahun. Kami melaksanakan methik sebagai wujud rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan,” katanya.

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyatakan bahwa methik padi adalah bagian dari upaya melestarikan budaya sebagai tradisi masyarakat petani di Kabupaten Ponorogo. “Methik Pari Desa Glinggang ini merupakan bentuk nguri-nguri budaya. Sejak 2017 kegiatan ini terus berkembang,” ujarnya. Dia juga menambahkan bahwa kegiatan tradisi methik pari telah dimasukkan dalam agenda KEPO (Kharisma Event Ponorogo) tahun 2026, dengan harapan dapat menarik minat generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian.

“Kami berharap generasi muda bisa ikut andil dalam pertanian, tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga ketahanan pangan di daerah. Kegiatan ini kami koordinasikan antara sektor budaya dan pertanian,” katanya. Di tengah hamparan padi yang menguning, methik pari bukan hanya tentang memulai panen, tetapi juga menjadi cara masyarakat menjaga keseimbangan hidup antara kerja keras, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam yang memberi kehidupan.

Artikel Terkait