Jakarta, CNN Indonesia -- Lari sering kali dianggap melelahkan dan membuat napas menjadi terengah-engah. Namun, hal ini tidak berlaku untuk tren slow jogging yang tengah viral, terutama di Korea Selatan. Sesuai dengan namanya, slow jogging merupakan aktivitas berlari dengan kecepatan yang lebih lambat, sehingga memungkinkan pelakunya untuk bersantai dan bahkan bercanda dengan teman-teman saat berlari.
Memahami Konsep Slow Jogging
Menurut informasi dari laman Slow Jogging Korea, teknik ini merupakan pendekatan baru dalam berlari yang lebih mengutamakan kenyamanan dan kesenangan dibandingkan dengan kecepatan dan intensitas. Metode ini diciptakan oleh Profesor Hiroaki Tanaka dari Universitas Fukuoka. Slow jogging menekankan pada kecepatan yang memungkinkan seseorang untuk berbincang-bincang tanpa terengah-engah, dengan kecepatan berkisar antara 3-5 kilometer per jam, yang hampir setara dengan ritme berjalan santai.
Manfaat Slow Jogging untuk Kesehatan
Slow jogging tidak bisa dianggap remeh karena teknik ini menawarkan berbagai manfaat bagi kesehatan. Ahli kardiovaskular Tamanna Singh menyampaikan bahwa banyak bukti menunjukkan adanya perubahan aerobik yang signifikan yang dapat diperoleh dari berlari dengan kecepatan lambat. Beberapa manfaat dari slow jogging antara lain:
- meningkatkan daya tahan tubuh,
- membantu persendian, ligamen, tendon, dan tulang beradaptasi dengan tekanan dari aktivitas lari,
- menyempurnakan bentuk tubuh,
- menguatkan otot,
- memperkuat jantung dan paru-paru.
Dengan rutin melakukan slow jogging, seseorang dapat meningkatkan stamina dan ketahanan tubuh terhadap kelelahan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan fungsi mitokondria, yang ada di hampir setiap sel tubuh dan berperan dalam menghasilkan 90 persen energi. Mitokondria berfungsi untuk memproses oksigen dan mengubah makanan menjadi energi. "Kita dapat meningkatkan kepadatan mitokondria dengan berlari perlahan," ungkap Singh.
Selain itu, berlari dengan santai juga membantu tubuh mengembangkan jaringan kapiler, yang merupakan pembuluh darah kecil. Ini akan meningkatkan jumlah oksigen yang dikirimkan ke otot.
Jika kecepatan slow jogging hampir setara dengan berjalan cepat, maka manfaat yang diperoleh juga serupa. Sebuah studi longitudinal yang dilakukan membandingkan pelari dengan pejalan kaki. Hasilnya menunjukkan bahwa jalan cepat dapat menurunkan risiko terhadap tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung dengan jumlah kalori yang terbakar yang sebanding.
Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine juga menemukan bahwa berjalan cepat merupakan salah satu cara terbaik untuk memperpanjang usia. Penelitian menunjukkan bahwa peserta yang berjalan cepat setidaknya 15 menit setiap hari mengalami penurunan risiko kematian dini hingga hampir 20 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya berjalan lambat, yang hanya 4 persen.
Dengan demikian, tidak ada salahnya untuk mencoba mengikuti tren slow jogging. Meskipun dilakukan dengan kecepatan pelan, aktivitas ini tetap memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.