Penting bagi orang tua untuk mengenali gejala demam berdarah dengue (DBD) pada anak sejak dini agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat. Gejala awal DBD sering kali menyerupai flu atau infeksi virus biasa, sehingga sering kali tidak disadari. Demam pada anak sering dianggap sebagai kondisi yang ringan dan dapat membaik dengan sendirinya, namun hal ini tidak selalu benar, terutama pada musim hujan saat kasus DBD meningkat.
Banyak kasus DBD baru terdeteksi ketika kondisi sudah memasuki fase yang lebih serius, sehingga orang tua perlu waspada terhadap berbagai tanda yang muncul agar anak segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Gejala Umum DBD pada Anak
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa gejala DBD yang sering muncul pada anak dan perlu mendapat perhatian khusus:
1. Demam Tinggi Mendadak
Menurut Bangkok Hospital, salah satu tanda paling umum dari DBD adalah demam tinggi mendadak dengan suhu tubuh mencapai 39-40 derajat Celsius. Demam ini biasanya berlangsung lebih dari tiga hari, dengan rata-rata sekitar lima hari, bahkan bisa mencapai tujuh hari. Berbeda dengan demam biasa, suhu tubuh anak sering kali sulit turun meskipun telah mendapatkan perawatan awal di rumah.
2. Sakit Kepala dan Nyeri di Belakang Mata
Sakit kepala yang cukup berat juga merupakan gejala DBD yang sering ditemukan. Beberapa anak mungkin merasakan nyeri di area belakang mata yang semakin terasa saat menggerakkan bola mata. Gejala ini mungkin sulit dikenali pada anak yang masih kecil, namun anak yang sudah bisa berkomunikasi biasanya akan mengeluhkan sakit kepala atau ketidaknyamanan di sekitar mata.
3. Nyeri Otot, Sendi, dan Perut
Infeksi virus dengue dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, menyebabkan anak mengalami nyeri otot, nyeri sendi, hingga sakit perut yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan ini umumnya muncul bersamaan dengan demam tinggi, sehingga orang tua perlu memperhatikan kombinasi gejala yang muncul.
4. Nafsu Makan Menurun, Mual, dan Muntah
Penurunan nafsu makan sering terjadi pada penderita DBD. Anak biasanya tampak lebih lemas, mudah lelah, serta mengalami mual dan muntah. Pada kondisi yang lebih serius, muntah dapat disertai darah. Jika muntah terus-menerus hingga anak kesulitan mempertahankan asupan cairan, hal ini memerlukan perhatian medis segera karena dapat menandakan perkembangan penyakit yang lebih serius.
5. Muncul Ruam Merah atau Bintik-Bintik pada Kulit
Ruam kemerahan pada kulit sering menjadi tanda yang terlihat saat infeksi dengue berkembang. Selain ruam, bintik-bintik merah atau ungu kecil di bawah kulit yang dikenal sebagai petechiae juga dapat muncul. Kemunculan petechiae dapat menunjukkan penurunan jumlah trombosit dalam darah, sehingga kondisi ini tidak boleh diabaikan dan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
6. Mimisan atau Gusi Berdarah
Penurunan jumlah trombosit dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah, sehingga anak berisiko mengalami perdarahan ringan hingga berat. Perdarahan dari hidung, gusi, urine yang mengandung darah, atau bintik perdarahan di bawah kulit dapat menjadi tanda bahwa penyakit sedang berkembang ke arah yang lebih serius.
7. Anak Terlihat Gelisah dan Sulit Dibangunkan
Kondisi yang paling berbahaya adalah ketika DBD berkembang menjadi dengue berat atau dengue shock syndrome, yang dapat mengancam nyawa dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit. Tanda-tanda yang mengarah pada dengue berat meliputi gelisah tanpa sebab yang jelas, napas cepat atau dangkal, kulit terasa dingin atau lembap, kebingungan, hingga anak sangat sulit dibangunkan. Jika gejala ini muncul, orang tua perlu segera membawa anak ke instalasi gawat darurat.
Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan segera jika anak mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari disertai beberapa gejala di atas. Hingga saat ini, belum ada obat yang secara langsung menyembuhkan infeksi dengue. Penanganan umumnya berfokus pada pemberian cairan yang cukup, pemantauan kondisi pasien, serta pencegahan komplikasi. Oleh karena itu, mengenali ciri-ciri DBD pada anak sejak awal sangat penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko terjadinya kondisi yang lebih berat dapat diminimalkan.