BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 05:09 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Jumat, 31 Jul 2026 13:55 WIB

Waspadai DBD: Mayoritas Kasus Kematian Terjadi pada Anak-anak

31 Jul 2026, 13:55 WIB 55x dibaca 4 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
R
Rizky Ananta 55x dibaca · 4 menit baca
Ilustrasi. Waspada DBD saat anak kembali ke Sekolah. (iStockphoto)
Ilustrasi. Waspada DBD saat anak kembali ke Sekolah. (iStockphoto)

Jakarta, CNN Indonesia -- Memasuki tahun ajaran baru, orang tua biasanya disibukkan dengan persiapan seragam, tas, buku, dan perlengkapan belajar untuk anak-anak mereka. Namun, di tengah kesibukan tersebut, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu perlindungan dari demam berdarah dengue (DBD). Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini.

Data dari Kementerian Kesehatan untuk periode 2018-2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5-14 tahun secara konsisten mencatatkan proporsi kematian akibat dengue yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Diperkirakan pada tahun 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue akan terjadi pada anak-anak berusia 0-14 tahun, di mana 41 persennya berasal dari kelompok usia 5-14 tahun. Sementara itu, kelompok usia 15-44 tahun menyumbang 42 persen dari total kasus dengue yang ada.

Pentingnya Kewaspadaan Terhadap DBD

Angka-angka tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak dari DBD harus menjadi prioritas, terutama saat mereka kembali beraktivitas di sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Dokter dan kreator konten kesehatan, Ikhsanuddin Qothi, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa DBD hanya muncul saat musim hujan. Padahal, penularan penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun.

"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin," ungkap Ikhsan dalam keterangan tertulis.

Ia juga menjelaskan bahwa dengue disebabkan oleh virus yang memiliki empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang aktif menggigit pada pagi dan sore hari. Oleh karena itu, risiko gigitan nyamuk dapat mengikuti aktivitas anak, baik di rumah, di sekolah, dalam kegiatan ekstrakurikuler, maupun saat bermain di lingkungan sekitar.

Pencegahan dan Tindakan yang Diperlukan

Infeksi dengue tidak selalu menunjukkan gejala, dan sebuah studi di Asia Tenggara serta Amerika Latin memperkirakan sekitar 45 persen anggota keluarga pasien DBD juga terinfeksi. Menariknya, hampir tiga perempat infeksi yang ditemukan tidak bergejala, sehingga sering kali tidak disadari.

Oleh karena itu, pencegahan tidak hanya cukup dilakukan di rumah, tetapi sekolah juga memiliki peran penting dalam memastikan tidak ada genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mengajak seluruh warga sekolah untuk menerapkan gerakan 3M Plus.

Ikhsan juga mengingatkan bahwa seseorang yang pernah terinfeksi DBD tetap berisiko untuk terinfeksi kembali. "Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat," jelasnya.

Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak atau anggota keluarga pernah mengalami DBD. Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk menyembuhkan dengue, dan penanganan yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala, menjaga kondisi pasien, serta mencegah komplikasi.

Orang tua juga diingatkan untuk tidak merasa lega ketika demam anak mulai menurun, karena pada sebagian pasien, fase kritis justru dapat muncul setelah demam mereda. "Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, tubuh sangat lemas, gelisah, maupun penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan," tambahnya.

DBD bukan hanya menyebabkan demam pada anak, tetapi juga dapat mengganggu proses belajar karena anak harus absen dari sekolah dan memerlukan waktu pemulihan yang tidak singkat. Bahkan setelah dinyatakan pulih, sebagian pasien masih bisa mengalami kelelahan selama beberapa minggu, sehingga ketika anak kembali ke kelas, kondisi fisiknya mungkin belum sepenuhnya pulih.

Menurut Ikhsan, perlindungan terhadap DBD harus dilakukan secara menyeluruh dengan langkah utama melalui penerapan 3M Plus, yaitu menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk. Vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan yang komprehensif.

Vaksin dengue saat ini telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak-anak dan juga dalam rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). "Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak dan anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue," tutup Ikhsan.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menekankan bahwa perlindungan terhadap DBD memerlukan kolaborasi dari semua pihak. "Sebagai orang tua, saya memahami betapa sulitnya ketika anak sakit akibat DBD. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh seluruh keluarga, mulai dari gangguan aktivitas hingga munculnya beban biaya yang tidak terduga. Oleh karena itu, perlindungan terhadap dengue perlu dilakukan bersama, tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat," ujar Andreas.

Ia menambahkan bahwa pencegahan yang dilakukan secara konsisten melalui edukasi, penerapan 3M Plus, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai langkah perlindungan yang sesuai diharapkan dapat memperkuat upaya menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Indonesia, sejalan dengan target nasional untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.