BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 07 Jul 2026 14:55 WIB

Anak Tiga Anggota Polisi yang Gugur dalam Operasi Narkoba Diberi Prioritas Masuk Polri

07 Jul 2026, 14:55 WIB 84x dibaca 2 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
B
Bagas Prakoso 84x dibaca · 2 menit baca
Anak Tiga Anggota Polisi yang Gugur dalam Operasi Narkoba Diberi Prioritas Masuk Polri
regional.kompas.com

PALANGKA RAYA - Anak-anak dari tiga anggota Polri yang gugur dalam tugas penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, akan mendapatkan prioritas untuk menjadi anggota Polri. Kapolda Kalimantan Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Iwan Kurniawan, menyatakan bahwa Kapolri memberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat luar biasa kepada ketiga anggota yang gugur dalam operasi tersebut.

Anak-anak dari ketiga anggota Polri yang meninggal dunia juga akan diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan kepolisian. Ketiga anggota yang gugur dan mendapatkan kenaikan pangkat anumerta adalah Aiptu Yudhi Perdana Putra, Ipda Sumariyanto, dan Briptu Nopandri Ramadhana.

Detail Penggerebekan yang Berujung Tragedi

Insiden penggerebekan yang terjadi pada Kamis, 2 Juli 2026, dini hari itu berujung pada kericuhan yang menyebabkan jatuhnya korban di pihak aparat. Aipda Yudhi Perdana Putra ditemukan dalam kondisi meninggal dengan luka bacok di kepala. Sementara itu, dua personel lainnya, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, sempat dinyatakan hilang setelah insiden tersebut. Bripda Nopandri ditemukan di daerah aliran sungai Katingan pada Sabtu, 4 Juli 2026, sedangkan Aiptu Sumariyanto ditemukan pada Minggu, 5 Juli 2026.

Operasi Penangkapan Sesuai Prosedur

Iwan Kurniawan memastikan bahwa operasi penangkapan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur standar kepolisian. Ia menjelaskan, "Pada saat melakukan penindakan itu kita sudah lakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Karena ini menjadi suatu kegiatan yang sudah terbiasa kami lakukan." Menurutnya, situasi menjadi tidak terkendali setelah keluarga dari target operasi meneriakkan kata "perampok" sambil mengeluarkan senjata tajam dan senjata api rakitan, yang memicu kedatangan kelompok lain.

Kericuhan terjadi ketika petugas berusaha menangkap dua terduga bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, di mana mereka menghadapi perlawanan dari warga dan keluarga terduga pelaku. Iwan menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum yang harus dilakukan meskipun dalam situasi berbahaya.