Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak individu yang berharap agar alergi yang mereka derita dapat hilang sepenuhnya seiring berjalannya waktu. Beberapa penderita alergi melaporkan bahwa gejala mereka mulai berkurang saat memasuki usia dewasa atau setelah lama menghindari pemicu alergi tersebut. Namun, pertanyaannya adalah apakah alergi benar-benar bisa sembuh total?
Perbaikan Gejala Alergi
Beberapa jenis alergi memang dapat menunjukkan perbaikan, lebih terkontrol, atau bahkan hilang dalam jangka waktu tertentu. Meskipun demikian, banyak kasus alergi yang bersifat kronis dan tidak dapat sepenuhnya menghilang. Menurut Mayo Clinic, alergi terjadi ketika sistem imun keliru mengenali zat tertentu sebagai ancaman berbahaya. Akibatnya, tubuh memproduksi antibodi imunoglobulin E (IgE) yang memicu pelepasan histamin, menyebabkan reaksi alergi seperti gatal, ruam, bersin, dan sesak napas. Karena melibatkan memori sistem imun, reaksi alergi sering kali bertahan lama dalam tubuh. Oleh karena itu, istilah yang lebih umum digunakan adalah 'dikontrol' atau 'remisi' daripada benar-benar sembuh total.
Pengendalian Alergi
Meskipun penderita alergi mungkin merasa terbatasi, banyak dari mereka yang dapat menjalani kehidupan normal. Berbagai alergi dapat dikelola dengan baik sehingga gejalanya jarang muncul atau tidak kambuh dalam waktu yang lama. Pengendalian alergi biasanya dilakukan melalui kombinasi beberapa metode, seperti menghindari alergen, penggunaan antihistamin dan kortikosteroid, serta imunoterapi atau suntikan alergi.
Imunoterapi bertujuan untuk melatih tubuh agar lebih toleran terhadap zat pemicu alergi secara bertahap. Reaksi sistem imun terhadap alergen tertentu dapat berkurang seiring waktu setelah terapi dilakukan secara rutin. Dalam beberapa kasus, terutama alergi makanan pada anak, gejalanya dapat membaik atau bahkan hilang seiring bertambahnya usia. Sebuah studi berjudul 'Natural course of IgE-mediated food allergy in children' menunjukkan bahwa alergi terhadap susu sapi cukup sering membaik. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 42 persen anak mulai menunjukkan toleransi terhadap susu sapi pada usia 8 tahun, dan angka ini meningkat menjadi 79 persen pada usia 16 tahun.
Alergi telur juga menunjukkan prognosis yang lebih baik, dengan sekitar 66-71 persen anak mulai toleran terhadap telur pada usia 4-6 tahun. Hampir 89 persen kasus alergi telur dapat mengalami resolusi saat anak tumbuh menjadi remaja. Namun, tidak semua jenis alergi mengikuti pola yang sama. Alergi terhadap kacang tanah dan makanan laut cenderung lebih menetap hingga dewasa. Misalnya, pada alergi kacang tanah, hanya sekitar 20-30 persen anak yang akhirnya mengalami toleransi saat mereka tumbuh besar.
Hal serupa juga ditemukan pada alergi makanan laut, di mana tingkat toleransi penuh hanya mencapai sekitar 3,4 persen pada anak prasekolah dan meningkat menjadi sekitar 45 persen saat remaja. Oleh karena itu, perjalanan alergi setiap individu bisa sangat bervariasi. Ada yang mengalami perbaikan signifikan saat dewasa, sementara yang lainnya tetap sensitif terhadap alergen tertentu sepanjang hidup mereka.
Penyebab Alergi Sulit Hilang
Secara ilmiah, alergi sulit untuk benar-benar hilang karena sistem imun telah mengingat zat pemicu tersebut. Ketika tubuh terpapar kembali dengan alergen, sistem imun dapat langsung bereaksi dan memicu pelepasan zat kimia seperti histamin, yang menyebabkan gejala alergi muncul kembali. Meskipun demikian, tingkat reaksi dapat bervariasi. Pada beberapa orang, sensitivitas tubuh terhadap alergen dapat menurun, sehingga gejala yang muncul menjadi jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.
Oleh karena itu, lebih baik untuk fokus pada pengendalian alergi daripada mengejar kesembuhan total. Pengelolaan alergi umumnya mencakup: mengenali pemicu alergi, menghindari paparan, menjaga kondisi tubuh, menggunakan obat sesuai anjuran dokter, dan menjalani imunoterapi bila diperlukan. Dengan penanganan yang tepat, banyak penderita alergi tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa gangguan yang berarti.