TEMANGGUNG, Jawa Tengah – BPBD Kabupaten Temanggung telah melakukan pemetaan terhadap belasan kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau. Kecenderungan ini menjadikan wilayah-wilayah tersebut sebagai target utama untuk penyaluran air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Temanggung, Totok Nursetyanto, mengungkapkan bahwa antara tahun 2017 hingga 2023, sebanyak 77 desa di 16 kecamatan mengalami penurunan debit mata air yang disebabkan oleh musim kemarau. “Selopampang, Bulu, Kaloran, Kranggan,” sebut Totok saat menjelaskan beberapa kecamatan yang terdampak, melalui pesan singkat pada Rabu (24/6/2026).
Penyaluran Air Bersih di Tahun 2023
Menurut data dari BPBD Temanggung, tahun 2023 mencatatkan penyaluran air bersih yang tertinggi ke kecamatan-kecamatan yang mengalami kekeringan. Namun, Totok tidak merinci jumlah liter air yang didistribusikan pada tahun tersebut.
Totok juga menambahkan bahwa penyaluran air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD, melainkan juga melibatkan Dinas Sosial, Palang Merah Indonesia, Perusahaan Daerah Air Minum, serta beberapa organisasi dan donatur dari dunia usaha. Tahun ini, BPBD Temanggung menargetkan penyaluran air bersih sebesar 1,5 juta liter, dengan menyiagakan dua truk tangki yang masing-masing memiliki kapasitas 5.000 liter.
Prediksi Musim Kemarau dan Risiko Kebakaran
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan lebih kering dan lebih lama dibandingkan dengan kondisi normal. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi antara Juli hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Di sisi lain, fenomena El Nino diperkirakan akan berlanjut hingga awal tahun 2027 dengan kemungkinan mencapai kategori moderat hingga kuat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah, termasuk Temanggung.
Wilayah Temanggung juga menjadi salah satu lokasi yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan. “Rawan karhutla di wilayah lereng Gunung Sumbing, Sindoro, Prau, serta kawasan Perhutani di Kecamatan Candiroto. Secara historis, kebakaran pernah terjadi antara tahun 2015 hingga 2018,” tambah Totok.