Perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses permodalan serta peralatan produksi yang memadai. Dukungan nyata dari berbagai pemangku kepentingan dianggap penting agar usaha yang dijalankan oleh perempuan di daerah dapat tumbuh dan bertahan.
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi), Ingrid Kansil, menyampaikan hal tersebut setelah melakukan kunjungan ke pelaku UMKM binaan Ipemi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada hari Sabtu (16/5/2026). Dalam kunjungan itu, Ingrid didampingi oleh Ketua Ipemi Magelang, Ita Sarifah, serta pengurus lainnya, untuk meninjau usaha yang dijalankan oleh kader Ipemi di Kecamatan Windusari, Borobudur, dan Mungkid.
Semangat Tinggi Namun Terhambat
Ingrid menyaksikan langsung berbagai aktivitas home industry milik anggota Ipemi, termasuk usaha grubi berbahan ubi yang dikelola oleh Endang, yang memberdayakan perempuan di sekitarnya. Dari kunjungan tersebut, Ingrid mengamati bahwa pelaku UMKM perempuan di daerah memiliki semangat yang tinggi untuk berkembang, meskipun mereka masih menghadapi kendala dalam mendapatkan dukungan untuk usaha mereka. Pelaku UMKM di daerah memerlukan suntikan pendanaan serta fasilitas produksi agar dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka. “Mulai dari kebutuhan ketersediaan alat usaha, hingga keinginan besar untuk terus produktif dan berkembang,” ungkap Ingrid dalam siaran persnya di Jakarta, Ahad (17/5/2026).
Praktik Usaha yang Mendukung Perempuan
Saat meninjau proses produksi, Ingrid menilai bahwa praktik usaha yang dilakukan oleh Endang memberikan solusi nyata bagi perempuan yang menjalani peran ganda sebagai ibu dan pekerja. Endang mengizinkan pekerjanya untuk membawa balita ke lokasi produksi, sehingga perempuan tetap dapat bekerja tanpa mengabaikan tanggung jawab keluarga. Ingrid menilai praktik ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan, yang mendorong terciptanya lingkungan kerja yang ramah bagi perempuan dan anak. “Inilah semangat perempuan Indonesia, saling menguatkan, mandiri, produktif, dan terus tumbuh bersama,” kata Ingrid.
Ingrid menegaskan bahwa jaringan Ipemi telah terbentuk hingga tingkat kecamatan, sehingga mampu menjangkau pelaku UMKM perempuan secara langsung di daerah. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan modal usaha, yang memerlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan sektor swasta. “Pelaku UMKM daerah, khususnya anggota Ipemi, masih membutuhkan bantuan permodalan. Sebagai contoh, usaha Ibu Endang yang memerlukan alat serut ubi yang lebih modern,” jelas Ingrid.