Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Indonesia berfokus pada peningkatan investasi dan percepatan alih teknologi melalui kerja sama industri dengan Azerbaijan. Inisiatif ini ditandai dengan percepatan pembahasan Memorandum of Understanding (MoU) yang merupakan tindak lanjut dari partisipasi Indonesia sebagai Partner Country di INNOPROM 2026.
Kesepakatan untuk mempercepat pembahasan MoU ini dicapai dalam sebuah pertemuan bilateral antara Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, serta Penasihat Menteri Ekonomi Republik Azerbaijan, Mammad Abbasbeyli. Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi jembatan untuk investasi baru, memperkuat industri nasional, serta transfer teknologi yang dapat meningkatkan daya saing sektor manufaktur di Indonesia.
Pentingnya MoU dalam Kerja Sama Industri
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa Azerbaijan memiliki posisi strategis sebagai penghubung perdagangan antara Asia dan Eropa, sehingga menjadi mitra penting dalam pengembangan kerja sama industri. "INNOPROM 2026 menjadi momentum penting bagi kami untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara strategis, termasuk dengan Azerbaijan. Kami harap pembahasan MoU ini mampu membuka peluang investasi, memacu alih teknologi, dan menciptakan kerja sama yang saling bermanfaat bagi kedua negara," ungkap Agus dalam keterangannya di Jakarta.
Sebagai langkah lanjutan, Kemenperin telah mengirimkan rancangan MoU kepada Pemerintah Azerbaijan melalui saluran diplomatik. Pemerintah Indonesia berharap Azerbaijan segera memberikan tanggapan agar proses finalisasi dan implementasi kerja sama industri dapat segera dilaksanakan. Indonesia mengusulkan beberapa ruang lingkup kerja sama dalam MoU tersebut, termasuk pertukaran informasi mengenai standar dan regulasi industri, pengembangan rantai pasok, alih teknologi, pengembangan kawasan industri, penyelenggaraan forum bisnis, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Prospek Kerja Sama dan Perdagangan yang Positif
Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, menambahkan bahwa pembahasan MoU diharapkan dapat menjadi dasar untuk memperkuat kerja sama di bidang industri, perdagangan, dan investasi antara kedua negara. "Komunikasi yang telah terjalin baik antara kedua negara menjadi modal penting untuk merealisasikan berbagai peluang kerja sama yang telah dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut," jelas Jose.
Indonesia memandang Azerbaijan sebagai mitra strategis karena negara tersebut berkembang menjadi salah satu pusat logistik yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui jalur Trans-Caspian International Transport Route (Middle Corridor) dan International North-South Transport Corridor (INSTC). Posisi ini membuka peluang untuk pengembangan rantai pasok industri dan memperluas akses produk manufaktur Indonesia ke kawasan Kaukasus, Asia Tengah, Eropa Timur, serta negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).
Hubungan perdagangan antara kedua negara juga menunjukkan tren yang positif. Pada tahun 2025, nilai perdagangan antara Indonesia dan Azerbaijan mencapai 155,2 juta dolar AS. Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas melalui ekspor produk seperti minyak sawit, sabun, plastik, tembakau, dan makanan olahan, sementara Azerbaijan memasok minyak mentah ke Indonesia. Finalisasi MoU diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama industri antara Indonesia dan Azerbaijan, serta membuka lebih banyak peluang investasi dan mempercepat alih teknologi untuk industri nasional. Keikutsertaan Indonesia dalam INNOPROM 2026 juga diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak kemitraan strategis dengan berbagai negara di kawasan Eurasia.