MALANG – Tim Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) telah memulai penyelidikan terkait penyebab kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Hingga tanggal 11 Agustus 2026, tim gabungan masih melakukan penelusuran mendalam untuk menemukan penyebab utama kebakaran yang menghanguskan lahan seluas 899,35 hektar tersebut.
Juru Bicara Satgas Karhutla TNBTS, Aan Jauhari, menyampaikan bahwa penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Namun, pihak Satgas berpendapat bahwa kemungkinan kebakaran ini sepenuhnya disebabkan oleh faktor alam adalah kecil. “Pertimbangannya, kawasan Bromo masih memiliki tingkat kelembaban tertentu meskipun saat ini berada pada musim kemarau,” jelas Aan pada 11 Agustus 2026.
Operasi Pemadaman Berlanjut
Sementara penyelidikan penyebab kebakaran terus dilakukan, tim gabungan tetap memprioritaskan operasi pemadaman di beberapa titik. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suhariyanto mengonfirmasi bahwa dari 34 titik api yang terdeteksi sejak awal kebakaran pada 3 Agustus 2026, sebanyak 32 titik telah berhasil dipadamkan. Saat ini, fokus penanganan diarahkan pada dua titik api yang tersisa.
“Kami upayakan dua titik (api) ini Jumat sudah selesai,” kata Suhariyanto saat meninjau lokasi pemadaman pada 11 Agustus 2026. Dua titik api tersebut berada di lereng tebing yang terjal dengan kemiringan ekstrem hingga 80 derajat, sehingga pemadaman secara manual di jalur darat tidak memungkinkan demi keselamatan petugas. Oleh karena itu, penanganan dari udara menjadi prioritas.
Pemanfaatan Helikopter untuk Pemadaman
Komandan Sektor Penanganan Karhutla TNBTS, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, menjelaskan bahwa penggunaan armada water bombing disesuaikan dengan kondisi cuaca. “Hari ini kami mengoptimalkan dua unit helikopter untuk water bombing dari sebelumnya tiga unit, menyesuaikan dengan dinamika cuaca dan visual pilot di lapangan,” ungkap Wahyu. Penanganan udara sempat terhambat oleh kabut tebal yang mengurangi jarak pandang pilot, serta angin kencang dan vegetasi yang mengering.
Suhariyanto menambahkan, jika semua titik api di Bromo berhasil dipadamkan pada Jumat, dua unit helikopter water bombing akan dipindahkan untuk menangani kebakaran di lokasi lain. Sementara satu unit helikopter akan tetap siaga di Bromo untuk melakukan pembasahan guna mencegah munculnya titik api baru.
Wilayah Terdampak dan Penutupan Akses Wisata
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan TNBTS telah meluas hingga ke empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Malang, Lumajang, dan Pasuruan. Berdasarkan data dari Satgas Karhutla, kawasan Watangan merupakan yang paling terdampak dengan luas area terbakar mencapai 817,342 hektar. Sisa area yang terbakar tersebar di kawasan Argowulan seluas 25,393 hektar, serta kawasan Dingklik, Pakis Bincil, dan Mungal dengan total area sekitar 56,65 hektar.
Akibat kebakaran ini, seluruh pintu masuk ke kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara. Pihak pengelola menawarkan opsi penjadwalan ulang atau pengembalian biaya tiket bagi wisatawan yang telah membeli tiket secara daring.
Strategi Pengawasan Pasca Kebakaran
Untuk mencegah terjadinya kebakaran kembali setelah penanganan selesai, Posko Terpadu yang dipimpin oleh Dandim 0820/Probolinggo, Letkol Inf Ribut Yodo Aprianto, telah menyiapkan langkah-langkah pencegahan. Ini termasuk patroli terpadu secara berkala, penempatan personel di area rawan, serta pengelolaan informasi publik secara terintegrasi. “Pengawasan lanjutan diperlukan karena kondisi vegetasi yang kering masih berpotensi menyebabkan api kembali muncul,” tegas Aan Jauhari.
Saat ini, penyelidikan formal mengenai penyebab kebakaran masih berlangsung bersamaan dengan upaya petugas gabungan untuk menyisir bara api yang tersisa di lapangan.